Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, April 23, 2019

Perdagangan di Nusantara – Masa Pengaruh ISLAM

Perdagangan di Nusantara

Pola Perdagangan dan pelayaran Antar Pulau di Indonesia. Jaringan perdagangan dan pelayaran antar pulau di Indonesia telah dimulai sejak abad pertama Masehi. Bahkan pada abad ke-2, Indonesia telah menjalin hubungan dengan India sehingga agama Hindu masuk dan berkembang. Sejak abad ke-5, Indonesia telah menjadi kawasan tengah yang dilintasi jalur perdagangan laut antara India dan Cina. Jalur perdagangan tersebut yang dikenal dengan nama Jalur Sutra Laut (Jalan Sutera lama/kuno via darat).

Jalur perniagaan dan pelayaran tersebut melalui laut, yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina Selatan kemudian Selat Malaka, Calicut: sekarang Kalkuta (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam (Syuria) sampai ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah.
Indonesia, melaui selat Malaka, terlibat dalam perdagangan dengan modal utama rempah-rempah (komoditas utama), seperti lada dari Sumatera, cengkeh dan pala dari Indonesia Timur, dan jenis kayu-kayuan dari Nusa Tenggara. 

Posisi Indonesia yang strategis dan hasil sumber daya alam yang berlimpah menyebabkan Indonesia mampu menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting di jalur dagang antara Asia Timur – Asia Barat (Timur Tengah dan semenanjung Arab), dengan Selat Malaka yang menjadi pusat-pusat dagang atau pelabuhan-pelabuhan dagangnya.

Sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14, ada dua kerajaan besar yang telah mampu menguasai perairan atau perniagaan di Nusantara, yakni Kerajaan Sriwijaya (Sumatera) dan Kerajaan Majapahit (Jawa). Keberhasilan ini karena kemampuan kedua kerajaan tersebut mendominasi bahkan memonopoli jaringan perdagangan di Selat Malaka. Perlu diketahui, bahwa Selat Malaka mempunyai posisi strategis baik secara geografis, iklim/cuaca, maupun secara politis dan ekonomi. Itu sebabnya Selat Malaka merupakan “kunci” penting. Dengan demikian, perdagangan dan pelayaran di Nusantara bahkan jaringan dagang internasional Asia di dominasi oleh dua Kerajaan bercorak Hindu-Budha tersebut dalam periode yang berbeda.

Di perkirakan pada abad ke 7 sampai dengan abad ke 11 Islam telah masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan begitu juga dengan perkembangannya. Oleh belaiu para saudagar dari luar maupun Indonesia sendiri, Islam disebarkan di sepanjang jalur perdagangan pada pelabuhan seperti Selat Malaka, Samudra, Palembang, disusul Demak, Cirebon, Gresik, Tuban, Makasar serta Indonesia bagian timur.

Sekitar abad ke-15 (setelah Majapahit runtuh), telah muncul kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara, dan yang juga akan melanjutkan tradisi perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Walaupun Majapahit runtuh, namun pelabuhan-pelabuhan Tuban dan Gresik (di pesisir utara Jawa) tetap berperan sebagai bandar transito dan distribusi penting, yaitu sebagai gudang sekaligus penyalur rempah-rempah asal Indonesia Timur (Maluku). Bahkan, Tuban berkembang menjadi bandar terbesar di Pulau Jawa. Perkembangan perdagangan dan pelayaran di perairan Jawa tersebut memacu munculnya pelabuhan-pelabuhan baru seperti pelabuhan Banten, Jepara dan Surabaya.

Pada abad ke-15 sampai awal abad ke-16, jalur perdagangan di asia Tenggara diwarnai oleh dua jalur besar, yaitu jalur Cina-Malaka dan jalur Maluku-Malaka. Jalur perdagangan antara Maluku-Malaka mendorong terjadinya perdagangan dan pelayaran antar pulau di Indonesia. Jalur Maluku-Malaka ramai karena banyaknya para pedagang yang hilir-mudik. Orang-orang Jawa misalnya, ke Maluku membawa beras dan bahan makanan yang lain untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Mereka ke Malaka, dengan ditambah beras, membawa rempah-rempah dari Maluku, dan sebaliknya dari arah Malaka membawa barang-barang dagangan yang berasal dari luar (pedagang-pedagang Asia). Berkat komoditas “beras” dan letak strategis antara Maluku dan Malaka, Jawa menjadi kekuatan yang diperhitungkan di dalam perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Jawa yang kemudian akan memainkan peranan penting dalam perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Terutama keberadaan pelabuhan atau bandar dagang Banten, yang akan mengambil peran penting di dalam perdagangan di Jawa dan Nusantara.
Pusat-Pusat Perdagangan serta Jalur Pelayaran Sebelum Jatuhnya Malaka. Sebelum bangsa Barat masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah menguasai perdagangan dan pelayaran Nusantara. Perdagangan dan pelayaran saat itu bersifat antar pulau, yakni antara Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau di bagian timur, terutama Maluku. Perdagangan dan pelayaran yang berkembang sebelum masuknya bangsa Barat ke Asia Tenggara maupun ke Indonesia itu telah membentuk pusat-pusat kekuasaan. Disamping Malaka sebagai pusat perdagangan dan juga pusat kekuasaan, maka terbentuk pula pusat-pusat kekuasaan lain seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banten, Ternate, dan Tidore, yang juga merupakan pusat-pusat kekuasaan yang bercorak Islam di Nusantara. Di Indonesia Timur, pelabuhan penting adalah Ternate dan Tidore. Barang dagangan yang dihasilkan adalah cengkih, sedangkan kayu cendana diperoleh dari pulau-pulau sekitarnya.
Di bagian Barat Indonesia, bandar-bandar yang penting seperti Pasai/Aceh, Pedir, Jambi, Palembang, Barus, Banten, dan Sunda Kelapa. Pelabuhan-pelabuhan tersebut kebanyakan mengekspor lada. Pelabuhan-pelabuhan di pantai Barat Sumatera juga menghasilkan barang dagangan lain seperti kapur barus, kemenyan, sutera, madu, dan damar.

Pusat-Pusat Perdagangan serta Jalur Pelayaran Setelah Jatuhnya Malaka. 

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), pedagang-pedagang Islam memindahkan kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain. Dengan jalan demikian, mereka tetap dapat melanjutkan usaha perdagangannya secara aman. Sehingga, penyaluran komoditas ekspor (rempah-rempah) dari daerah Indonesia ke daerah Laut Merah tatap dapat dikuasai.
Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang sebelum Malaka jatuh sudah ada kemudian menjadi berkembang pesat. Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang berkembang pesat setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 antara lain, Aceh, Banten, Demak, Tuban, Gresik, Makasar, Ternate dan Tidore.

Pedagang-pedagang Islam yang konflik dengan pedagang-pedagang Portugis menyingkir ke Aceh, Banten, dan Makasar. Mereka tetap melakukan perdagangan dan pelayaran dengan pedagang-pedagang luar. Karena jalur melalui Selat Malaka sudah dikuasai Portugis, maka mereka membuka jalur perdagangan baru melalui sepanjang Pantai Barat Sumatera. Pedagang-pedagang Islam berangkat dari bandar Banten lalu masuk selat Sunda terus berlayar ke luar melalui pantai barat Sumatera. Sebaliknya, Banten juga didatangi pedagang-pedagang dari luar seperti Gujarat, Persia, Cina, Turki, Myanmar Selatan, dan Keling.

Kapal-kapal yang berasal dari Banten ataupun ke Banten banyak juga yang singgah ke Aceh. Sementara itu, pedagang-pedagang Islam dari Malaka juga banyak yang mengalihkan kegiatannya ke Aceh sebagai akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Sehingga Aceh juga berkembang menjadi pusat perdagangan dan pusat kekuasaan Islam. Sedangkan di bagian Timur, ada dua pusat perdagangan dan kekuasaan Islam yang penting, yakni Ternate dan Tidore.






Perkembangan Kekuasaan Barat di Indonesia Pasca VOC

Daftar Isi :
A. Pergantian Pemerintahan dari VOC ke Pemerintahan Kolonial
B. Pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels dan Janssens di Indonesia
C. Masa Pemerintahan Kolonial INGGRIS di Indonesia
D. Masa Pemerintahan Kolonial BELANDA di Indonesia (:Pemerintah Hindia-Belanda)

A. Pergantian Pemerintahan dari VOC ke Pemerintahan Kolonial

Sebab-sebab/ Latar Belakang Pergantian Pemerintahan
1) Perubahan Politik Pemerintah di Negeri Belanda
Pergantian status (nama pemerintahan) Belanda dari Kerajaan menjadi Republik, bernama Republik Bataaf  (Bataafche Republiek) tahun 1795.

Pergantian ini dipengaruhi oleh adanya Revolusi Prancis yang sedang bergejolak dan memberi pengaruh di Eropa. Revolusi Prancis: peristiwa dimana pemerintahan monarki (Kerajaan) digulingkan dan diganti dengan Pemerintahan Republik. Gelombang Revolusi ini juga barpengaruh sampai ke Belanda.

Pergantian status ditandai oleh peristiwa penggulingan Raja Willem V oleh kaum Republikan Belanda yang didukung Prancis.

2) VOC mengalami Kebangkrutan/ kemunduran:

Sebab-sebab VOC mengalami kebangkrutan:
  1. Banyak korupsi yang dilakukan oleh para pembesar/penguasa VOC
  2. Kalah bersaing dengan kongsi-kongsi dagang negara Eropa lainnya (seperti Inggris dan Prancis)
  3. VOC banyak menanggung hutang akibat peperangan yang dilakuakan (banyak mengeluarkan biaya perang)
  4. Maraknya perdagangan gelap di jalur monopoli VOC
  5. Timbulnya kemerosotan moral di kalangan para penguasa akibat sistem monopoli perdagangan
Akhirnya, pada tanggal 31 Desember 1799 VOC dibubarkan, dengan pencabutan ijin usaha/ hak istimewa (oktrooi).

3) Namun, tahun 1806 status Belanda berubah lagi. 
Dari nama sebelumnya Republik Bataaf menjadi Kerajaan Belanda kembali. Namun merupakan kerajaan bawahan Prancis.

Perubahan ini terjadi karena penguasaan Prancis atas Belanda. Belanda berada di bawah kekuasaan Prancis, yaitu di bawah kekuasaan Louis Napoleon Bonaparte. Itu berarti bahwa daerah jajahan Belanda juga berada di bawah kekuasaan Prancis, termasuk Indonesia (yang merupakan jajahan Belanda).

Untuk menangani Indonesia, pemerintah Kerajaan Belanda (yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte) membentuk pemerintahan Kolonial yang dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal. Maka, Louis Napoleon Bonaparte menunjuk Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal pemerintah kolonial di Indonesia.

B. Pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels dan Janssens di Indonesia

Pemerintahan Gubernur Jenderal Hermann Willem Daendels

Tugas pokok/utama Daendels di Indonesia adalah:
mempertahankan Pulau Jawa agar tidak tidak diserang dan direbut Inggris.

Dalam menjalankan tugasnya itu, maka langkah-langkah yang diambil Daendels adalah menyiapkan Pulau Jawa sebagai basis militer (sebagai pertahanan). Langkah-langkah yang diambil antara lain:

  • Menambah jumlah prajurit dengan merekrut orang Indonesia.
  • Membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur).


Tujuan:
1) mempercepat dan memudahkan gerak pasukan,
2) memudahkan mobilitas logistik dan ekonomi.

Pembuatan jalan pos ini menggunakan sistem kerja rodi (kerja paksa) yang diwajibkan bagi rakyat.

  • membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.
  • Membangun pangkalan Armada Laut di Anyer/ Merak dan Ujung Kulon
  • Membangun benteng-benteng.

à Untuk mendapatkan dana sebagai sebagai persiapan, Daendels membuat kebijakan/ langkah-langkah antara lain sbb:
§ Contingenten, yaitu penyerahan pajak berupa hasil bumi (pajak hasil bumi).
§ Verplichte Leverantie, yaitu kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada pem. kolonial Belanda (penyerahan wajib).

§ Prianger Stelsel, yaitu kewajiban bagi rakyat Priangan untuk menanam Kopi.
à Tindakan pembaharuan Daendels, antara lain:
§ Merombak pemerintahan feodal dan menggantinya dengan sistem pemerintahan Barat modern.
§ Menjadikan para penguasa wilayah/ penguasa pribumi (seperti Bupati dan Kaum Bangsawan lainnya) sebagai pegawai pemerintah kolonial.
§ Membagi Pulau Jawa menjadi 9 perfektur.
§ Menjadikan Batavia sebagai pusat pemerintahan.
§ Membentuk pengadilan keliling dan pengadilan untuk orang pribumi.
§ Memberantas korupsi dan penyelewengan dalam pungutan Kontingenten dan penyerahan wajib (para penguasa pribumi).

§ Menyederhanakan upacara-upacara di Keraton Yogyakarta dan Surakarta.
à Daendels dipanggil kembali ke Belanda dan dicopot jabatannya sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia, dikarenakan:
–   Daendels telah menjual tanah-tanah negara kepada swasta (seperti Cina dan Arab). Misalnya saja ia telah menjual tanah-tanah luas sekitar Batavia (ommelandene).
–   Tindakan-tindakan/ kebijakan-kebijakan yang dilakukan Daendels ternyata telah menindas rakyat sehingga menimbulkan kebencian dari para penguasa pribumi maupun rakyat. Kebencian itu menimbulkan hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah Kolonial Belanda dengan para penguasa pribumi maupun rakyat, sehingga dapat mengancam pertahanan Belanda di Jawa. 
à Akhirnya, kedudukan Dendels sebagai Gubernur Jenderal digantikan oleh Janssens.

Pemerintahan Gubernur Jenderal Janssens
à Saat Janssens memerintah di Indonesia, pemerintahan di Indonesia dalam keadaan yang tidak baik/ buruk, antara lain:
–   Keadaan negara tidak stabil karena keuangan negara dalam keadaan buruk.
–   Tidak terjalinnya hubungan yang baik antara pemerintah Belanda di Indonesia dengan raja-raja di Pulau Jawa akibat tindakan Daendels.
–   Angkatan perang yang diwariskan oleh Daendels tidak sekuat yang diharapkan. 
à Janssens tidak sehebat dan sekuat Daendels, sehingga keadaan ini dimanfaatkan oleh Inggris untuk melakukan penyerangan.
à Pada tanggal 11 Agustus 1811, pasukan Inggris yang dipimpin oleh Lord Minto menyerang Jawa. Serangan langsung ditujukan ke Batavia (pusat pemerintahan Belanda di Indonesia). Belanda pun terdesak dan akhirnya menyerah kepada Inggris. Janssens menyerah di Kali Tuntang (dekat kota Salatiga), dan menandatangani perjanjian Tuntang sebagai bentuk kekalahan dan juga penyerahan Indonesia.

Isi perjanjian Tuntang: 


  1. Seluruh kekuatan militer milik Belanda yang berada di Asia Tenggara harus diserahkan kepada Inggris dan menjadi tawanan Inggris.
  2. Hutang pemerintahan Belanda di Indonesia tidak diakui Inggris.
  3. Pulau Jawa, Madura, dan semua pangkalan Belanda di Luar Jawa menjadi wilayah kekuasaan Inggris.



Lord Minto adalah seorang Gubernur Jenderal EIC: East India Company, yaitu sebuah kongsi dagang milik Inggris di Asia yang berpusat di India pada saat itu.
à Dengan ditandatanganinya Perjanjian Tuntang berarti Indonesia sekarang berada di bawah kekuasaan Inggris. Untuk menangani pemerintahan di Indonesia Lord Minto menunjuk Thomas Stamford Raffles  sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia.

C. Masa Pemerintahan Kolonial INGGRIS di Indonesia

Masa Kekuasaan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816)
Kebijakan-kebijakan politik pemerintahan Raffles berdasarkan asas-asas Liberal (kebebasan). Asas liberal amat menekankan kebebasan  dan persamaan manusia (kebebasan individu). Maka, kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Raffles di Indonesia tidak sekejam dan sekeras pemerintah Kolonial Belanda.

Perubahan-perubahan yang dilakukan Raffles di Indonesia:
a)  Bidang Politik:
– membagi Pulau Jawa dan Madura menjadi 16 Karesidenan, agar memudahkan dalam mengatur dan pengawasan.
– Membentuk badan pengedilan (landraad) di tiap Karesidenan.
– Para Bupati dijadikan pegawai pemerintahan.
b)  Bidang Ekonomi:
– Sistem Pajak Hasil Bumi dan Penyerahan Wajib yang diterapkan pada masa kekuasaan G. J. Daendels diganti dengan Landrent-System (sistem sewa tanah).
Pokok-pokok Landrent-system:
a)  semua tanah milik pemerintah kolonial Inggris, jadi petani/siapa pun yang ingin memiliki tanah harus menyewanya dari pemerintah dan membayar sewa pajak (sewa tanah).
b)  Besarnya pajak/sewa tanah berdasarkan atas tingkat kesuburan tanah dan luas tanah.
c)  Besarnya pajak tanah sebesar 2/5 dari hasil panen, dan boleh dibayar dengan uang atau pun hasil bumi.
d) Penyewaan tanah dilakukan berdasarkan kontrak dan batas waktu.
e)  Segala bentuk penyerahan wajib dan kerja rodi (kerja paksa/wajib kerja) dihapuskan.
Hambatan Landrent-system:
a)  sistem feodal yang telah berakar dan menjadi tradisi bagi rakyat di Indonesia. Padahal landrent-system dapat dilaksanakan apabila sistem feodal dihapuskan.
b)  Kurangnya jumlah pegawai pemerintah yang cakap untuk mengontrol pelaksanaan landrent-system.
c)  Rakyat Indonesia belum siap dengan sistem yang baru (sistem yang modern).
d) Kepemilikan tanah yang masih bersifat tradisional, yaitu kepemilikan tanah biasanya berdasarkan warisan adat. Hal ini menyulitkan pemerintah kolonial Inggris dalam prosedur pengambilalihan kepemilikan tanah.

Landrent-system gagal diterapkan, sehingga Raffles pun bertindak seperti Daendels.
Jasa Raffles di Indonesia:
–    menulis buku yang berjudul “History of Java” (:sejarah Jawa).
–    Menemukan bunga Bangkai Rafflesia Arnoldi di Bengkulu.
–    Merintis Kebun Raya Bogor.
–    Menghapus sistem perbudakan.
Tahun 1814, terjadi pergantian kepemerintahan yang ditandai dengan adanya Konvensi London (Perjanjian/ Kesepakatan di kota London, Inggris). Isi dari konvensi/kesepakatan itu adalah: “Belanda menerima kembali daerah jajahannya yang dulu direbut olah Inggris”.
Secara resmi pada tanggal 19 Agustus 1816, berlangsung penyerahan kekuasaan atas Indonesia dari pemerintah Inggris kepada Belanda. Inggris diwakili oleh John Fendall, sedangkan Belanda diwakili oleh Van der Capellen, Elout, dan Buyskes.
Dengan penyerahan kekuasaan tersebut, berarti Indonesia kembali berada di bawah kekuasaan/penjajahan Pemerintah Kolonial Belanda (Pemerintah Hindia-Belanda). (NB: Hindia-Belanda adalah sebutan atau nama Pemerintahan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia).

D.Masa Pemerintahan Kolonial BELANDA di Indonesia (Pemerintah Hindia-Belanda)

Kebijakan-kebijakan Pemerintah Kolonial BELANDA

A.  CULTUUR STELSEL — Gubernur Jenderal Van den Bosch
Faktor Pendorong Pelaksanaan Cultuur Stelsel:
Sekitar tahun 1830 pemerintah Hindia-Belanda mengalami keadaan ekonomi yang sangat buruk, yaitu sedang mengalami kesulitan keuangan (Kas negara kosong) yang disebabkan oleh:
à Banyak pengeluaran untuk biaya perang (perang Diponegoro dan pemberontakan dari Belgia)
à Belanda terlilit hutang luar negeri
Tujuan: untuk memulihkan keuangan negara (mengisi Kas negara yang kosong)
Pokok-Pokok/ Aturan Tanam Paksa:
a)    Rakyat diwajibkan menyediakan seperlima dari lahan garapnya untuk ditanami tanaman wajib/ tanaman ekspor (misalnya: kopi, tebu, tembakau, indigo/nila)
b)   Lahan yang disediakan untuk tanaman wajib dibebaskan dari pajak tanah
c)    Hasil tanaman harus dijual kepada pemerintah Hindia-Belanda dengan harga yang telah ditentukan
d)   Kelebihan dari hasil panen akan dikembalikan kepada rakyat
e)    Rakyat yang tidak memiliki tanah wajib bekerja selama 66 hari dalam setahun di perkebunan milik pemerintah
f)    Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menggarap tanaman wajib tidak boleh melebihi tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menanam padi (3 bulan)
g)   Kegagalan panen karena bukan kesalahan petani akan menjadi tanggung jawab pemerintah
h)   Pelaksanaan tanam wajib dibawah pengawasan langsung para penguasa pribumi (kepala desa)

Penyimpangan Pelaksanaan Budi Daya Tanaman
Adanya Cultuur Procenten, yaitu semacam persenan/hadiah bagi para pelaksana tanam paksa jika dapat menyerahkan hasil melebihi ketentuan.
Penyimpangan-penyeimpangan tersebut a.l. :
à Tanah yang diserahkan ternyata dapat lebih dari seperlima bahkan seluruhnya
à Tanah yang diserahkan juga tetap kena pajak
à Penduduk yang tidak punya tanah ternyata bekerja di perkebunan lebih dari 66 hari
à Waktu dan tenaga untuk menanam tanaman wajib melebihi waktu menanam padi
à Jika hasil panen mengalami kelebihan ternyata tidak dikembalikan pada penduduk
à Kegagalan panen baik karena itu kesalahan petani atau bukan tetap menjadi tanggung jawab petani

Penentang Cultuur Stelsel:
à Golongan Agama dan Humanis: para Pendeta; tanam paksa tidak menghargai nilai kemanusiaan dan melanggar hak asasi manusia.
à Kaum Liberalis dan Kapitalis : para Pedagang dan Pengusaha; tanam paksa tidak menciptakan kebebasan dan kehidupan ekonomi yang adil.

Tokoh Penentang Cultuurstelsel:
L Baron van Hoevell
L Douwes Dekker yang menulis buku: Max Havelaar (Lelang Kopi)
L Fransen van der Putte yang menulis buku: Zucker Contracten (Kontrak Gula)

Penghapusan Cultuur Stelsel:
1)      pada tahun 1860, penghapusan tanam paksa lada
2)      pada tahun 1865, penghapusan tanam paksa the dan nila
3)      pada tahun 1870, hampir semua jenis tanam paksa telah dihapuskan, kecuali tanam paksa kopi di Priangan
4)      pada tahun 1917, penghapusan tanam paksa kopi
B.Pelaksanaan Politik Kolonial Liberal/Terbuka (Sistem Usaha Swasta)
Politik Pintu Terbuka (Open Door Policy), yaitu kebijakan pemerintah Belanda untuk memberi/membuka kesempatan kepada pihak swasta/pihak asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. — (para pemilik Modal: orang Inggris, orang Amerika Serikat, orang Belgia, orang Prancis, orang Belanda)

Dikeluarkannya Undang-Undang AGRARIA (Agrarische Wet) (1870)
Oleh: de Waal (Staten Generaal / Parlemen Belanda)
Tujuan UU Agraria:
→ Melindungi hak milik petani atas tanahnya dari penguasaan pemodal asing
→ Memberi prluang kepada pemodal asing untuk menyewa tanah dari penduduk Indonesia
→ Membuka kesempatan kerja kepada penduduk Indonesia, terutama menjadi buruh perkebunan
ISI UU Agraria (Agrarische Wet):
→ Gubernur Jenderal tidak diperbolehkan menjual tanah milik pemerintah. Tahah itu dapat disewakan paling lama 75 tahun (jangka waktu antara 50 – 75 tahun).
→ Tanah milik pemerintah antara lain, tanah/hutan yang belum dibuka, tanah yang berada di luar wilayah milik desa dan penghuninya, serta tanah milik adat.
→ Tanah milik penduduk antara lain, semua sawah, ladang, dan sejenisnya yang dimiliki langsung oleh penduduk desa. Tanah semacam itu boleh disewa oleh pengusaha swasta selama 5 tahun.

Dikeluarkannya Undang-Undang GULA (Suiker/Zucker Wet)
Isinya: Tebu tidak boleh diangkut keluar Indonesia dan harus diproses di dalam negeri.
Artinya: bahwa pihak swasta diberi kesempatan dan ijin untuk mendirikan pabrik gula.
Perkebunan-perkebunan swasta asing dan penanaman modal dalam bidang pertambangan, seperti:
perkebunan tembakau di Deli (Sumatera Timur)
Perkebunan tebu di Jateng dan Jatim
Perkebunan karet di Serdang (Sumatera Timur)
Perkebunan kina, The di Jawa Barat
Pertambangan batu bara di Umbilin (Sumatera Barat)
Pertambangan timah di Bangka, Belitung, dan Singkep


Thursday, October 12, 2017

Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Melayu

Kerajaan Melayu dan Sriwijaya

Sebelumnya saya mengucapkan semangad belajar bagi teman-teman  semua. kali ini saya akan memberikan sedikit dari kisah dari kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Langsung aja y..
Kerajaan Melayu dan Sriwijaya secara kronologis dapat digolongkan ke dalam kehidupan kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia. Karena kerajaan-kerajaan ini menempati kedudukan istimewa di dalam perkembangan sejarah Indonesia, maka dapat disimpulkan masing-masing.
a.      
1.   Kerajaan Sriwijaya
Didalam bahasa Sanksekerta  Sriwijaya terdiri dari penggabungan dua kata, yaitu Sri yang mempunyai arti cahaya dan wijaya adalah Kemenangan.
Perkembangan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan besar tidak lepas dari letaknya dijalur perdagangan dunia pada saat itu. Oleh karena itu, Kerajaan sriwijaya ini mempunyai pengaruh yang besar  di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Thailand, Kamboja, Semenanjung Malaya dan dengan menguasai Tulang Bawang, Kedah, Pulau Bangka, Jambi, Tanah Genting Kra dan Jawa Tengah.
Dengan demikian Kerajaan Sriwijaya merupakan penguasa antarnusa, yaitu negara yang memiliki wilayah kekuasaan beberapa pulau, Sehingga Kerajaan Sriwijaya merupakan negara kesatuan pertama di Indonesia.
Dan berikut ini sumber-sumber sejarah yang dapat di gunakan untuk mengetahui tanda-tanda dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya.
1)      Sumber asli, yaitu prasasti dari Sumatera dan Bangka, serta berita-berita purbakala.
Diantara prasasti dalam sejarah kerajaan sriwijaya tersebut adalah adanya Prasasti Kedukan Bukit  (sekitar tahun 683 M) di Plembang, Prasati Talang Tuwo (tahun 684 M) di sebelah barat Palembang, Prasati Kota Kapur (tahun 686 M) di bagian barat Pulau Bangka, prasati-prasati Siddhayatra di daerah Palembang, Prasasti Telaga Batu, di Palembang, Prasasti Karang Berahi di Jambi, Prasasti Ligor (tahun 775 M) di Tanah Genting Kra, dan Prasasti Palas Pasemah di Lampung Selatan.
2)      Sumber asing , yaitu berita-berita dari Cina, India, Malaka, Caylon, serta berita-beritadari Persia dan Arab.
Berdasarkan penemuan prasasti-prasasti tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang rajan yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanegara telah berusaha memperluas kekuasaannya sampai ke Melayu. Pusat Kerajaan Sriwijaya pada mulanya tidak terletak di Plembang, tetapi Pusatnya ada di Minanga Tamwan, yaitu daerah pertemuan antara Sungai Kampar Kanan dengan Sungai Kampar Kiri.

b2.  Kerajaan Melayu
Kerajan Melayu merupakan salah satu kerajaan terkemuka di Sumatera bagian selatan waktu itu. Kerajaan Melayu diperkirakan berpusat di daerah Jambi, yaitu di tepi kanan kiri sunagi Batang Hari. Pada Sungai Batang Hari ini temukan peninggalan-peninggalan purba berupa candi-candi, arca dan sebagainya.

Sumber Sejarah yang dapat digunakan untuk meneliti Kerajaan Melayu hanyalah berasal dari Sumber Cina, sedangkan berita-berita dari prasati sama sekali tidak ada . Muasafir Cina yang bernama I-Tsing (tahun 671-695 M) menyebutkan di dalam bukunya, bahwa pada abad ke-7 secara politik Kerajaan Melayu telah di masukkan ke dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.



Nah itu tadi sejarah dari kerajan sriwijaya dan melayu, semoga dapat menambah wawasan kita semua..trimakasih.

Monday, October 2, 2017

SEJARAH KERAJAAN TARUMANEGARA

Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan yang tertua di Indonesia berikutnya setelah kerajaan kutai adalah Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Barat (sekitar daerah Bogor).  Adapun sumber-sumber sejarah tentang Kerajaan Tarumanegara adalah prasasti-prasasti dan berita-berita asing (sebagian besar datang dari berita-berita Cina yaitu Dinasti Tang). Prasasti-prasasti yang menjadi sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara adalah Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor), Prasasti Kebon Kopi (daerah Bogor), Prasasti Jambu (daerah Bogor), Prasasti Muara Cianten (daerah Bogor), Prasasti Tugu (daerah Bekasi), Prasasti Pasir Awi (daerah Leuwiliang), dan Prasasti Munjui (daerah Banten). Bahasa yang dipakai pada Kerajaan Tarumanegara adalah bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa. Kerajaan Tarumanegara berkuasa di daerah Jawa Barat sekitar abad ke-5 M.      

Dalam prasasti dinyatakan pula bahwa yang memerintah Kerajaan Tarumanegara adalah Purnawarman. Hal ini terlihat gambar dua tapak kaki raja yang diperkirakan adalah tapak kaki Raja Pumawarman yang dilambangkan sebagai dua tapak kaki Dewa Wisnu.


Pada Prasasti Tugu dinyatakan bahwa Raja Pumawarman memerintahkan untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6.122 tombak. Pembangunan terusan pada masa Kerajaan Tarumanegara ini mempunyai arti ekonomis yang besar bagi masyarakat (Tarumanegara) saat itu, karena dapat dipergunakan sebagai sarana lalu lintas pelayaran perdagangan antar daerah di Kerajaan Tarumanegara atau dengan dunia luar. Hasil bumi Kerajaan Tarumanegara merupakan modal utama dalam dunia perdagangan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Bahkan, masyarakat dapat memenuhi aktivitas kebutuhan hidupnya dari dunia luar, terutama terhadap barang-barang yang tidak dihasilkan oleh rakyat Kerajaan Tarumanegara.       

Sejarah Dan Budaya Kerajaan Kutai Bercorak Hindu Buddha

Berdasarkan sumber-sumber berita yang berhasil ditemukan menunjukkan bahwa Kerajaan Kutai terletak di Kalimatan Timur, yaitu di hulu Sungai Mahakam. Nama kerajaan disesuaikan dengan daerah tempat ditemukannya prasasti, yaitu daerah Kutai, karena dalam prasasti tidak ada yang menyebutkan nama dari kerajaan tersebut. Sejarah Dan Budaya Kerajaan Kutai Bercorak Hindu Buddha




Sumber utama mengenai sejarah Kerajaan Kutai adalah 7 buah batu tulis yang disebut Yupa. Yupa merupakan sebuah tiang batu untuk mengikat kurban (hewan atau manusia yang akan dipersembahkan kepada dewa-dewa). Prasasti ini memakai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Dengan cara membandingkan (bentuk huruf) yang dilakukan oleh para ahli, akhirnya dapat diperkirakan bahwa prasasti-prasasti di Kerajaan Kutai berasal dari abad ke-4 M atau ke-5 M. Dari prasasti itu dapat diketahui pertama Kerajaan Kutai bernama Kudungga. Nama Kudungga memperlihatkan nama Indonesia asli. Pada masa pemerintahar Aswawarman di Kerajaan Kutai diadakan upacara Aswamedha. Tradisi Upacara Kerajaan Kutai ini merupakan upacara pelepasan kuda untuk menentukan batas-batas dari wilayah Kerajaan Kutai.  Dan akhirnya Aswawarman digantikan oleh Mulawarman yang merupakan raja terkemuka dan dibawah pemerintahannya, Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaan.

Monday, August 8, 2016

Zaman Logam (Alat Peninggalan Kebudayaan Logam, Zaman Perunggu dan Besi, Corak Kehidupan Masyarakat, Teknologi Pada Zaman Logam)

Zaman logam terjadi pada saat manusia sudah mampu mengolah bahan logam. Sebagai perkembangan dari zaman batu, manusia masuk ke zaman logam. Zaman logam disebut juga masa perunggu dan besi atau masa perundagian. Pada zaman ini, manusia telah menetap dan mulai mengenal pembagian kerja berdasarkan keahlian tertentu. Karena itu, kehidupan masyarakat pada zaman ini telah mengenal adanya pembagian status berdasarkan jumlah kekayaan yang dimiliki. Manusia pada zaman ini juga telah mengenal peralatan yang terbuat dari logam tertentu yang mudah didapat seperti perunggu dan besi.
    Pada zaman logam ini, manusia tidak hanya menggunakan bahan-bahan dari batu untuk membuat alatalat kehidupannya, tetapi juga mempergunakan bahan dari logam, yaitu perunggu dan besi untuk membuat alat-alat yang diperlukan.Pada masa perundagian (undagi = tukang), manusia purba sudah mengenal bijih logam. Mereka sudah lebih berpengalaman sehingga dapat mengenali bijih-bijih logam yang dijumpai meleleh di permukaan tanah. Bijih logam yang ditemukan terutama berasal dari tembaga. Kemudian mereka membuat alat-alat yang diperlukan dari bahan bijih logam yang ditemukan. Teknologi logam kuno yang terdapat di Indonesia dipengaruhi oleh Vietnam. Hasil teknologi ini dikenal dengan Budaya Dong Son. Selain itu, Thailand juga merupakan negara asal teknologi logam kuno.

Alat Peninggalan Kebudayaan Logam
    Jenis-jenis barang atau alat yang menjadi peninggalan dari masa perundagian terbuat dari perunggu, besi, dan tanah liat. Barang-barang peninggalan yang terbuat dari bahan perunggu sebagai berikut.
1. Nekara
    Nekara adalah genderang perunggu dengan membran satu. Berdasarkan hiasan yang terdapat dalam beberapa nekara, benda ini diduga digunakan untuk memanggil roh para leluhur untuk turun ke dunia dan memberi berkah serta memanggil hujan. Nekara dapat juga disebut Genderang Nobat atau Genderang Ketel karena bentuknya semacam berumbung. Terbuat dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya, dan sisi atasnya tertutup. Bagi masyarakat prasejarah, nekara dianggap sesuatu yang suci. Di daerah asalnya, Dongson, pemilikan nekara merupakan simbol status, sehingga apabila pemiliknya meninggal, dibuatlah nekara tiruan yang kecil yang dipakai sebagai bekal kubur.
Nekara
Di Indonesia nekara hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, antara lain ditabuh untuk memanggil roh nenek moyang, dipakai sebagai genderang perang, dan dipakai sebagai alat memanggil hujan. Daerah penemuan nekara di Indonesia antara lain, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Roti, dan Pulau Kei serta Pulau Selayar, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Sangean.
Nekara-nekara yang ditemukan di Indonesia, biasanya beraneka ragam sehingga melalui hiasan-hiasan tersebut dapat diketahui gambaran kehidupan dan kebudayaan yang ada pada masyarakat prasejarah. Nekara yang ditemukan di Indonesia ukurannya besar-besar. Contoh nekara yang ditemukan di Desa Intaran daerah Pejeng Bali, memiliki ketinggian 1,86 meter dengan garis tengahnya 1,60 meter. Nekara tersebut dianggap suci sehingga ditempatkan di Pure Penataran Sasih. Dalam bahasa Bali sasih artinya bulan, maka nekara tersebut dinamakan nekara Bulan Pejeng.
2. Kapak Corong
    Disebut kapak corong karena kapak dari perunggu ini bentuknya seperti corong. Kapak ini disebut juga kapak sepatu karena berbentuk seperti sepatu. Fungsinya tetap sama seperti kapak sebelumnya, yaitu untuk memotong kayu. Kapak corong disebut juga kapak sepatu karena seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan tangkai kayunya disamakan dengan kaki. Bentuk bagian tajamnya kapak corong tidak jauh berbeda dengan kapak batu, hanya bagian tangkainya yang berbentuk corong. Corong tersebut dipakai untuk tempat tangkai kayu. Bentuk kapak corong sangat beragam jenisnya. Salah satunya ada yang panjang satu sisinya yang disebut dengan candrosa, bentuknya sangat indah dan dilengkapi dengan hiasan. Kapak ini banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan di Papua.
Kapak Corong
3. Arca Perunggu
    Arca perunggu yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk bervariasi, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang.Pada umumnya, arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Palembang Sumsel, Limbangan Bogor, dan Bangkinang Riau. Arca-arca berupa manusia dan binatang ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang, Bogor, dan Lumajang (Jawa Timur).
Arca Perunggu
4. Bejana Perunggu
    Bejana perunggu berbentuk seperti kepis (wadah ikan pada pemancing) dengan pola hias pilin berganda pada sisi luar. Bejana perunggu ditemukan di tepi Danau Kerinci Sumatra dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kedua bejana yang ditemukan mempunyai
hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J. Barang ini telah ditemukan di Kerinci (Jambi) dan Asemjaran, Sampang, Madura (Jawa Timur).
Bejana Perunggu
5. Perhiasan
    Perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya, yaitu seperti kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin. Di antara bentuk perhiasan tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari anak-anak. Untuk itu, para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar. Perhiasan perunggu ditemukan di Malang, Bali, dan Bogor.Perhiasan dari perunggu berupa gelang, gelang kaki, anting-anting, kalung, cincin, dan mainan kalung.
Perhiasan dari perunggu
6. Manik-Manik    Manik-manik yang berasal dari zaman perunggu ditemukan dalam jumlah yang besar sebagai bekal kubur sehingga memberikan corak istimewa pada zaman perunggu.
Manik-manik yang berasal dari zaman perunggu
7. Senjata
    Beberapa mata tombak dan belati perunggu ditemukan di Prajekan (Jawa Timur) dan Bajawa (Flores).

    Kebudayaan logam yang dikenal di Indonesia berasal dari Dongson, nama kota kuno di Tonkin yang menjadi pusat kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Karena itu, kebudayaan perunggu di Indonesia disebut juga dengan Kebudayaan Dongson (Vietnam). Munculnya kepandaian mempergunakan bahan logam, tentu diikuti dengan kemahiran teknologi yang disebut perundagian. Logam tidak dapat dipukul-pukul atau dipecah seperti batu untuk mendapatkan alat yang dikehendaki, tetapi harus dilebur terlebih dahulu baru kemudian dicetak.
Cara pembuatan alat-alat perunggu pada zaman prasejarah dapat dikategorikan menjadi dua cara sebagai berikut.
1. Acire perdue atau cetakan lilin, caranya yaitu membuat bentuk benda yang dikehendaki
dengan lilin. Setelah membuat model dari lilin, maka ditutup dengan menggunakan
tanah, dan dibuat lubang dari atas dan bawah. Setelah itu, dibakar sehingga lilin yang
terbungkus dengan tanah akan mencair, dan keluar melalui lubang bagian bawah.
Lubang bagian atas dimasukkan cairan perunggu, dan apabila sudah dingin, cetakan
tersebut dipecah sehingga keluarlah benda yang dikehendaki.
2. Bivalve atau setangkup, caranya yaitu menggunakan cetakan yang ditungkupkan dan
dapat dibuka, sehingga setelah dingin cetakan tersebut dapat dibuka, maka keluarlah
benda yang dikehendaki, cetakan tersebut biasanya terbuat dari batu atau kayu.
Cara pembuatan alat-alat perunggu pada zaman prasejarah

Indonesia mengalami dua zaman logam, yaitu zaman perunggu dan zaman besi.
a. Zaman Perunggu
    Pada zaman perunggu, hasil temuannya berupa nekara, perhiasan, kapak, bejana, arca, dan senjata. Nekara banyak ditemukan di Bali dan Temanggung. Bejana perunggu hanya ditemukan di Sampang (Madura) dan Sumatra (Kerinci). Kapak, Arca, dan senjata banyak ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Teknik pembuatan benda perunggu ada dua macam, yaitu teknik setangkup (bivalve) dan cetakan lilin (a cire perdue).
b. Zaman Besi
    Pada zaman ini, manusia telah berhasil membuat benda-benda dari besi yang membutuhkan teknik
tertentu. Teknik yang dimaksud salah satunya adalah acire perdue, yaitu teknik peleburan dengan cara membuat model terlebih dahulu dari bahan sejenis lilin sebelum dituangi cairan logam. Perkakas yang dibuat dari besi tidak banyak ditemukan di Indonesia. Benda-benda dari besi umumnya ditemukan sebagai benda bekal kubur, antara lain mata kapak, pisau, sabit, ujung tombak, dan gelang, seperti yang ditemukan di Wonogiri dan Besuki.

Corak Kehidupan Masyarakat Zaman Logam
    Pada saat berlangsungnya proses pembauran antara pendatang Melayu austronesia dari Yunan Selatan dengan Australomelanesid sekitar tahun 300 SM, tibalah gelombang II emigran Melayu
austronesia yang berasal dari Dong Son (Vietnam sekarang). Kebudayaan bangsa Melayu austronesia gelombang II ini setingkat lebih maju daripada emigran bangsa Melayu austronesia gelombang I. Mereka telah menguasai teknologi pertanian basah, yaitu bersawah dan teknologi metalurgi/pengecoran logam. Teknologi pertanian basah dikembangkan bersama dengan teknologi pengairan. Mereka belum mengenal usaha untuk mempertahankan kesuburan tanah dengan cara pemupukan, tetapi dilakukan melalui upacara magis (fertility cult). Teknologi metalurgi setidak-tidaknya mencakup dua teknik pokok, yaitu teknik pengambilan logam dan teknik pengolahan barang logam. Permukiman atau desa yang mereka bangun menyebar di segala tempat dari tepi pantai sampai ke pedalaman di gununggunung. Pembangunannya lebih teratur, dipagar dengan tempat
penguburan di luar permukiman. Selain pengerjaan tanah dan pengerjaan logam, pada masa perundagian mereka juga sudah mengenal hal-hal seperti permainan wayang, pembuatan gamelan
(alat musik), astronomi, metrik (ukuran), tata pemerintahan, teknik membatik, dan pelayaran.

Teknologi Pada Zaman Logam
    Pada masa perundagian telah dikenal bahan untuk membuat barang berupa logam. Logam untuk membuat barang-barang tersebut adalah perunggu dan besi. Logam perunggu dihasilkan dari campuran tembaga dan timah. Ada beberapa teknologi untuk membuat barang dari logam, yaitu teknik tempa, a cire perdue/cetak lilin, dan bivalve/setangkup/ cetak ulang. Dalam teknik pengecoran logam, ada dua macam cara pengerjaan, yaitu teknik tempa dan teknik tuang cetak. Teknik ini ada dua cara, yaitu teknik cetak lilin (a cire perdue) hanya dapat digunakan satu kali dan teknik cetak setangkup (bivalve) dapat digunakan berkali-kali.

Sunday, August 7, 2016

Zaman Megalitikum / Batu Besar (Peninggalan Hasil Kebudayaan | Menhir, Sarkofagus, Dolmen, Punden Berundak, Arca, Waruga, Kubur Batu)

Megalitikum berasal dari bahasa yunani mega artinya besar dan lithos artinya batu.yang berarti batu-batu besar. Megalithikum atau zaman batu besar diperkirakan berkembang sejak zaman batu
muda sampai zaman logam. Ciri utama pada zaman megalitikum adalah manusia yang hidup pada zamannya sudah mampu membuat bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu. Banyak terdapat bangunan-bangunan besar terbuat dari batu ditemukan khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan mereka seperti sarkofagus, kubur batu, punden berundak, arca, menhir, dan dolmen.
    Adanya budaya megalitikum ini terungkap dari penemuan bangunan megalit. Bangunan megalitikum dibuat dan digunakan untuk penghormatan dan pemujaan roh para leluhur. Bangunan megalith dibangun atas dasar konsep kepercayaan hubungan antara yang masih hidup dengan yang sudah mati dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanah. Bangunan megalith mulai dibangun pada masa bercocok tanam sampai masa perundagian.Bahan untuk membuat megalit biasanya didatangkan dari tempat lain. Bangunan megalitikum didirikan dengan tujuan untuk digunakan kebutuhan kelompok, terutama digunakan dalam pemujaan terhadap roh nenek moyang. Bangunan megalit ini banyak ditemukan hampir di seluruh pelosok nusantara.
Berikut ini adalah bangunan peninggalan hasi kebudayaan yang termasuk megalitikum:
1. Menhir
    Menhir adalah tugu batu yang sengaja dibuat untuk mengenang jasa para pemimpin kelompok mereka yang telah meninggal. Menhir (men = batu; hir = berdiri) adalah bangunan berupa batu panjang yang didirikan tegak menjulang sebagai media atau sarana penghormatan, sebagai tempat roh, sekaligus lambang dari si mati. Menhir banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah. Dalam upacara pemujaan, menhir juga berfungsi untuk menambatkan hewan
kurban. Tempat-tempat penemuan menhir di Indonesia, yaitu Pasemah (Sumatra Selatan), Pugungharjo (Lampung), Kosala, Lebak Sibedug, Leles, Karang Muara, Cisolok (Banten, Jawa
Barat), Pekauman Bondowoso (Jawa Timur), Trunyan dan Sembiran (Bali), Ngada (Flores), Belu (Timor), Bada-Besoha dan Tana Toraja (Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan). Menhir biasanya disimpan atau ditancapkan di atas pusara/kuburannya. Menhir ada yang sudah dihaluskan dan ada pula yang masih kasar. Berikut adalah gambar dari Menhir:
Menhir

 2. Sarkofagus
    Sarkofagus adalah peti mati dari satu batu utuh terdiri atas wadah dan tutup. Mayat diletakkan dalam posisi berbaring meringkuk. Sarkofagus banyak ditemukan di Indonesia terutama di Bondowoso (Jawa Timur) dan Bali. Pada sarkofagus sering dipahatkan motif kedok/topeng dalam berbagai ekspresi untuk melindungi roh si mati dari gangguan gaib.
Sarkofagus

Sarkofagus adalah peti atau tempat menyimpan mayat pemimpin kelompok yang telah meninggal. Bentuknya seperti lesung, terbuat dari batu. Mayat pemimpin mereka dimasukkan ke dalam sarkofagus dengan tujuan sebagai berikut.
a) untuk menghambat pembusukan karena kecintaan mereka pada pemimpinnya; dan
b) untuk mencegah penggalian, terutama oleh binatang-binatang buas, dan banyak ditemukan di Bali.

3. Dolmen
    Dolmen adalah sejenis meja batu besar yang digunakan untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang. Dolmen (dol = meja; men = batu) adalah batu besar dengan permukaan rata. Digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji, pelinggih roh, dan tempat duduk ketua suku agar
mendapat berkat magis dari leluhurnya. Bangunan ini ditemukan di Pulau Samosir (Sumatra Utara), Pasemah (Sumatra Selatan), Leles (Jawa Barat), serta Pekauman dan Pakian di Bondowoso (Jawa Timur). Berikut ini adalah gambar dari dolmen:
Dolmen

 4. Punden Berundak
    Punden berundak adalah bangunan pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat. Punden berundak merupakan bangunan pemujaan para leluhur berupa bangunan bertingkat dengan bahan dari batu. Di atas bangunan tersebut biasa didirikan menhir. Bangunan ini banyak dijumpai di Kosala dan Arca Domas (Banten), Cisolok (Sukabumi), serta Pugungharjo (Lampung).Konon, bangunan atas pura (Tanah Lot Bali) diilhami dari punden berundak. Punden berundak dapat ditemukan di Lebak si Bedug (Banten). Gambar Punden Berundak:
Punden Berundak
  
5. Arca
    Arca adalah patung dengan bentuk sederhana dan kasar, umumnya patung kepala raja. Beberapa arca sederhana menggambarkan para leluhur binatang (gajah, kerbau, monyet). Arca batu ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi. Di Pasemah (Sumatra Selatan) masyarakat di sekitar mengaitkan arca batu dengan legenda Si Pahit Lidah. Arca batu juga ditemukan di Batu Raja dan Pager Dewa (Lampung), Kosala, Lebak Sibedug, dan Cisolok (Jawa Barat), Pekauman Bondowoso (Jawa Timur), serta Bada-Besoha (Sulawesi Tengah).Arca ditemukan di Sumatra, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Berikut adalah gambar dari arca:
Arca
  
6. Waruga
    Waruga adalah kubur batu berukuran kecil dengan bentuk menyerupai kubus. Waruga berpenampilan dan berfungsi seperti sarkofagus, tetapi dengan posisi mayat jongkok terlipat. Waruga hanya ditemukan di Minahasa. Selain sudah mengenal upacara perkabungan bangsa Melayu austronesia sudah mengenal tradisi pengayuan, fetisisme, dan mutilisi (asah gigi, tindik telinga, potong rambut, cabut gigi, serta sunat). Waruga banyak terdapat di Sulawesi Tengah. Berikut adalah gambar dari waruga:
Waruga

7. Kubur Batu
    Kubur batu adalah peti batu yang terbuat dari empat buah atau lebih lempengan (papan) batu tulis, Kubur batu berbentuk seperti sarkofagus. Akan tetapi, dibuat dari papan-papan batu. Banyak ditemukan di Pasemah (Sumatra Selatan) dan Kajar, Gunung Kidul (DIY). Berikut adalah gambar kubur batu:
Kubur Batu
Itulah tadi bahasan mengenai zaman megalitikum yang mempunyai peninggalan berupa bangunan-bangunan megalitik, baca juga zaman Neolitikum untuk menambah pengetahuan kita, semoga bermanfaat :)

Zaman Neolitikum (Peninggalan, Kebudayaan, Kapak Persegi dan Lonjong, Kepercayaan Zaman Batu Muda Neolitikum)

Neolitikum berasal dari kata Neo yang artinya baru dan Lithos yang artinya batu. Neolitikum berarti zaman baru, hasil kebudayaan yang terkenal pada zaman Neolitikum ini adalah jenis kapak persegi dan kapak lonjong. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium. Masa pleistosen berakhir berganti dengan masa holosen. Hal itu ditandai dengan naiknya permukaan laut sehingga daratan menyempit dan iklim menjadi lebih panas (kering). Seiring dengan pertambahan manusia purba di bumi, wilayah perburuannya pun bertambah sempit. Berburu sudah tidak dapat lagi digunakan sebagai mata pencaharian pokok. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk menghasilkan bahan makanan sendiri. Usahanya, yaitu dengan membudidayakan tanaman dan beternak. Pada masa ini berarti manusia purba sudah mengalami peningkatan, yaitu dari pengumpul makanan (food gatherer) menjadi penghasil makanan (food producer).
A. Peninggalan dan Corak Kehidupan Kebudayaan Masyarakat Zaman Neolitikum
Peninggalan zaman neolitikum
    Peralatan yang digunakan pada masa neolitikum sudah diasah sampai halus, bahkan ada peralatan yang bentuknya sangat indah. Peralatan yang diasah pada masa itu adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ada yang telah membuat mata panah dan mata tombak yang digunakan untuk berburu dan keperluan lainnya.Perkembangan penting pada zaman batu muda adalah banyak ditemukannya kapak lonjong dan kapak persegi dengan daerah temuan yang berbeda. Kapak persegi banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Barat, seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara. Adapun kapak lonjong banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Timur, seperti Sulawesi, Halmahera, Maluku, dan Papua. Berikut adalah gambar dari kapak lonjong dan kapak persegi:
Kapak Persegi dan Kapak Lonjong
     Kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil. Ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul. Adapun yang ukuran kecil disebut dengan Tarah atau Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat. Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api atau chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat, atau tanda kebesaran.
Perhatikan gambar di bawah untuk membantu memahami bentuk kapak persegi dari chalcedon.
kapak persegi dari chalcedon
      Kapak persegi masuk ke Indonesia melalui jalur barat dan daerah penyebarannya di Indonesia adalah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Kapak persegi sebetulnya berasal dari daratan Asia. Di Indonesia banyak ditemukan pabrik atau tempat pembuatan kapak tersebut yaitu di Lahat Sumatra Selatan, Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya, Pacitan serta lereng selatan Gunung Ijen Jawa Timur. Pada waktu yang hampir bersamaan dengan penyebaran kapak persegi, di Indonesia Timur juga tersebar sejenis kapak yang penampang melintangnya berbentuk lonjong sehingga disebut kapak lonjong. Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar, dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua. Selain berkembang kapak persegi dan kapak lonjong, pada zaman Neolithikum juga terdapat barang-barang yang lain seperti perhiasan, gerabah, dan pakaian. Perhiasan yang banyak ditemukan umumnya terbuat dari batu, baik batu biasa maupun batu berwarna atau batu permata atau juga terbuat dari kulit kerang. Adapun gerabah, baru dikenal pada zaman Neolitikum, dan teknik pembuatannya masih sangat sederhana karena hanya menggunakan tangan tanpa bantuan roda pemutar seperti sekarang. Pakaian yang dikenal oleh masyarakat pada zaman Neolithikum dapat diketahui melalui suatu kesimpulan penemuan alat pemukul kayu di daerah Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Hal ini berarti pakaian yang dikenal pada zaman Neolithikum berasal dari kulit kayu. Dan, kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya pakaian suku Dayak dan suku Toraja, yang terbuat dari kulit kayu.
Kebudayaan Zaman Neolitikum
    Memasuki tahun 1500 SM Kepulauan Nusantara menerima kedatangan migrasi jenis manusia Malayan mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia yang berasal dari kawasan Yunan (Cina
Selatan). Mereka mendominasi wilayah bagian barat Indonesia, sedangkan Australomelanesid tergeser ke arah timur. Kemudian terjadi pembauran antara kedua jenis manusia tersebut. Mereka
memasuki Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur selatan (Yunan–Thailand–Semenanjung Malaka/Malaysia–Sumatra–Jawa–Bali–Lombok–Flores–Sulawesi Selatan) dan jalur timur (Yunan–Vietnam– Taiwan–Maluku–Sulawesi Utara-Papua). Bangsa Melayu austronesia datang dengan membawa kepandaian bercocok tanam di ladang. Tanamannya berupa keladi, labu air, ubi rambat, padi gaga, sukun, pisang, dan kelapa. Sebagai petani dan peternak, mereka memerlukan kebersamaan yang tinggi untuk menebang hutan, membakar semak, menabur/menanam benih, memetik hasil ladang, mendirikan rumah, dan menyelenggarakan upacara. Untuk mengatur kehidupan bersama,
mulai terlihat peran para pemimpin (primus interpares/yang utama dari sesamanya), yaitu Ketua Suku/Ratu/Datuk. Mereka sudah terampil membuat gerabah, anyaman, pakaian, dan bahkan perahu.
1. Gerabah
    Gerabah dibuat dari bahan tanah liat dicampur pasir dengan teknik tangan dikombinasi teknik tatap
sehingga hasilnya masih kasar dan tebal. Hasil-hasil gerabahnya berupa periuk, cawan, piring, dan
pedupaan. Gerabah-gerabah ini berfungsi sebagai tempat makanan, minuman, dan untuk keperluan
upacara. Gerabah zaman ini banyak ditemukan di Kendenglembu, Banyuwangi (Jawa Timur), Kalumpang dan Minanga, Sippaka (Sulawesi Tengah), Danau Poso (Sulawesi Tengah), serta Minahasa (Sulawesi Utara). Berikut ini adalah gambar jenis gerabah yang berasal dari Gilimanuk:
Gerabah Zaman Neolitikum
 2. Anyam-anyaman
    Bahan untuk anyaman dibuat dari bambu, rumput, dan rotan. Teknologinya dengan teknik anyam dan pola geometrik.
Fungsinya sebagai wadah barang-barang rumah tangga.
3. Pakaian
    Berdasarkan temuan alat pemukul kulit kayu di Ampah, Kalimantan Selatan, dan di Kalumpang, Minanga, Sippaka (Poso, Sulawesi Tengah) diduga sudah dikenal pakaian yang dibuat dari tenunan serat kulit kayu. Bahan lain yang dibuat tenunan kain antara lain, serat abaka (sejenis pisang) dan rumput doyo.
4. Perahu/Teknik Membuat Perahu
    Teknik pembuatan perahu masih sederhana. Pembuatan perahu menggunakan bahan sebatang pohon, yaitu benda, meranti, lanang, dan kedondong. Pohon yang telah dipilih sebagai bahan pembuatan perahu penebangannya harus didahului upacara.
Perahu bercadik
 Pembuatan perahu dimulai dari sisi luar. Sesudah terbentuk sisi luar, sisi dalam dikeruk dengan
memperhatikan ujung pasak yang dipakukan dari sisi luar agar ketebalan dinding perahu sama tebal. Agar perahu tidak terbalik, pada sisi perahu dipasang cadik/ katik sebagai penyeimbang. Untuk menggerakkan perahu dapat dipasang layar. Biasanya, jenis layar yang digunakan adalah layar sudu-sudu (sudu = suru dalam bahasa Jawa). Pada saat itu sudah dikenal perdagangan dengan sistem barter atau tukar-menukar. Besar kecilnya nilai barang pengganti ditentukan dan disepakati bersama. Kuat dugaan bahwa pada saat itu sudah dikenal alat penukar berupa kulit kerang yang indah. Bahan-bahan yang ditukar antara lain ramuan hasil hutan; hasil pertanian/peternakan; hasil kerajinan seperti gerabah, beliung, perhiasan, dan perahu; serta garam/ikan laut.

B. Kepercayaan Zaman Neolitikum
    Kepercayaan pada zaman neolitikum ditandai juga denga cara penguburan mayat. Bangsa Melayu austronesia mengenal kepercayaan dan upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang atau para leluhur. Para leluhur yang meninggal dikuburkan dengan upacara penguburan.
Ada dua macam cara penguburan sebagai berikut.
1. Penguburan Langsung
    Mayat hanya dikuburkan sekali, yaitu langsung dikubur di dalam tanah atau diletakkan dalam sebuah wadah kemudian dikuburkan di dalam tanah dengan upacara. Cara meletakkan mayat ada dua cara, yaitu membujur dan terlipat/meringkuk. Mayat selalu dibaringkan mengarah ke tempat roh atau
arwah para leluhur (misalkan di puncak gunung). Sebagai bekal dalam perjalanan ke dunia roh, disertakan bekal kubur yang terdiri atas seekor anjing, unggas, dan manik-manik. Contoh penguburan seperti ini adalah penguburan di Anyer (Jawa Barat) dan di Plawangan, Rembang (Jawa Tengah).
2. Penguburan Tidak Langsung
    Penguburan tidak langsung biasa dilakukan di Melolo (Sumba), Gilimanuk (Bali), Lesung Batu (Sumatra Selatan), dan Lomblen Flores (NTT). Cara penguburan tidak langsung, yaitu mula-mula mayat dikubur langsung di dalam tanah tanpa upacara. Setelah diperkirakan sudah menjadi kerangka mayat digali lagi. Kerangka tersebut dicuci, diberi hematit pada persendian kemudian diletakkan dalam tempayan atau sarkofagus. Ada kepercayaan bahwa seseorang yang telah mati itu jiwanya berada di dunia roh dan setiap orang mempunyai tempat yang berbeda. Perbedaan tempatnya berdasarkan pada perbuatan selama masih hidup dan besarnya upacara kematian atau penguburan yang diselenggarakan. Puncak upacara ditandai dengan mendirikan bangunan batu besar (megalith).
Itulah tadi bahasan mengenai zaman neolitikum atau zaman batu muda, semoga kita semakin paham tentang sejarah, yuk baca juga zaman Paleolitikum dan Mesolitikum agar semakin menambah pengetahuan :)

Saturday, August 6, 2016

Zaman Mesolitikum / Batu Tengah (Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris Sous Roche, Manusia Purba, dan Corak Masyarakat Zaman Mesolitikum)

Mesolitikum berasal dari kata Meso yang artinya tengah dan Lithos yang artinya batu sehingga zaman ini dapat disebut zaman batu tengah. Ciri kebudayaan Mesolitikum tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Palaeolithikum. Namun pada masa Mesolitikum, manusia yang hidup sudah ada yang menetap sehingga kebudayaan Mesolithikum sangat menonjol dan sekaligus menjadi ciri dari zaman ini yang disebut dengan kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris sous Roche. Zaman batu pertengahan diperkirakan berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam. Pada zaman ini, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua, yaitu berburu, mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan. Mereka juga sudah mulai hidup menetap di gua, tepi sungai, atau tepi pantai. Corak hidup masyarakat pada masa ini masih didominasi oleh corak hidup berburu dan meramu. Setelah ribuan tahun berburu dan meramu (dari 1.900.000–4.500 tahun yang lalu) manusia mulai memiliki kepandaian dalam mengolah tanah dengan menanam keladi. Budaya pada masa mesolitikum ini didukung oleh manusia Australomelanesid (dan sedikit jenis Mongoloid yang khusus menempati wilayah Sulawesi Selatan). Kemampuannya dalam berburu juga telah meningkat. Alat-alat yang dipergunakan antara lain perangkap, jerat, mata panah, dan busur. 
A. Kebudayaan dan Alat Zaman Mesolitikum
    Alat bantu untuk berburu dan meramu tingkat lanjut masih menggunakan bahan batu, kayu, dan tulang. Teknik pembuatannya sudah dikerjakan lebih lanjut, yaitu sedikit diperhalus. Jenis alat yang dipakai sebagai berikut.
1. Alat Kebudayaan Kjokkenmoddinger (dari Batu)
    Kjokkenmoddinger yaitu istilah yang berasal dari bahasa Denmark, yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah. Jadi, Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Kjokkenmoddinger dapat diartikan juga timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatra, yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut, menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V.Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak ditemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper, yakni kapak genggam Palaeolithikum.
Alat Kebudayaan Kjokkenmoddinger
    Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble atau kapak Sumatra sesuai dengan lokasi penemuannya, yaitu di Pulau Sumatra. Pebble bentuknya dapat dikatakan sudah agak sempurna dan sudah mulai halus. Bahan untuk membuatnya berasal dari batu kali yang dipecah-pecah. Selain pebble dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan sejenis kapak, tetapi bentuknya pendek seperti setengah lingkaran yang disebut dengan Hache Courte atau kapak pendek. Di dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan fosil manusia yang berupa tulang belulang, pecahan tengkorak dan gigi. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak memberikan gambaran yang lengkap, dari hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa manusia yang hidup pada masa Mesolithikum adalah jenis Homo Sapiens.
    Selain Kjokkenmoddinger, ciri lain yang sangat menonjol dari zaman Mesolithikum seperti yang disebut di atas adalah Abris sous Roche. Abris Sous Roche adalah gua-gua yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Penyelidikan pertama pada Abris Sous Roche dilakukan tahun 1928 – 1931 oleh Dr. Van Stein Callenfels di gua Lawa dekat Sampung Ponorogo Jawa Timur. Alat-alat yang ditemukan pada gua tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, kapak yang sudah diasah yang berasal dari zaman Mesolithikum, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa zaman Mesolithikum sesungguhnya memiliki tiga corak kebudayaan yang terdiri dari:
1) Kebudayaan pebble atau pebble culture di Sumatra Timur.
2) Kebudayaan tulang atau bone culture di Sampung Ponorogo.
3) Kebudayaan flakes atau flakes culture di Toala, Timor dan Rote
    Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mesolithikum, maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah Teluk Tonkin, daerah asal bangsa Papua Melanosoide. Dari hasil penyelidikan tersebut, ditemukan pusat pebble dan kapak pendek yang berasal dari Pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Namun, di daerah tersebut tidak ditemukan flakes, sedangkan di dalam Abris Sous Roche banyak ditemukan flakes, bahkan di Pulau Luzon Filipina juga ditemukan flakes.
Gambar di bawah ini akan membantu lebih memahami penyebaran kebudayaan Mesolitikum di Indonesia:
penyebaran kebudayaan Mesolitikum di Indonesia
     Alat budaya dari batu yang ditemukan di dalam Kyokkenmodinger antara lain kapak sumatra/ pebble yang digunakan untuk memotong, menggali, dan menguliti. Selain itu, ditemukan serta batu pipisan/batu giling yang digunakan untuk menggiling obat-obatan atau menggiling zat pewarna untuk hematit atau lukisan. Alat-alat ini ditemukan di timbunan bukit remis (kyokkenmodinger) di Sumatra Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam serta gua-gua di Besuki, Jawa Timur. Kyokkenmodinger berasal dari kata kyokken yang berarti dapur dan modding yang berarti sampah. Artinya, segala sisa makanan (terutama kulit kerang, siput, dan remis) yang dibuang. Pada ”garis pantai prasejarah” di kawasan timur Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara membentang dari Lhokseumawe sampai Medan (sekitar 40–50 km dari garis pantai yang sekarang), ditemukan timbunan/bukit remis yang diduga sebagai timbunan sisa makanan dari manusia Australomelanesid yang tinggal di rumah panggung. Pada timbunan kulit kerang ini ditemukan fosil Australomelanesid, kapak sumatra, dan batu pipisan.
2. Alat-Alat Kebudayaan Abris Sous Roche
    Abris sous roche (abris = tinggal, sous = dalam, roche = gua), yaitu peradaban ketika manusia purba menjadikan gua-gua sebagai tempat tinggal. Hasil kebudayaannya adalah Kebudayaan Sampung Bone di Gua Lawa, dekat Sampung Ponorogo, Jawa Timur, berupa tulang manusia jenis Papua Melanesoid, flakes, alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa yang ditemukan pada 1928–1931 oleh van Stein Callenfels dan Kebudayaan Toala di Lamoncong, Sulawesi Selatan. Hasil kebudayaan ini adalah lukisan yang terdapat di dinding gua, seperti lukisan manusia, cap tangan, dan binatang yang ditemukan di Gua Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dan Danau Sentani Papua.
    Alat-alat budaya yang ditemukan dalam abris sous roche adalah serpih bilah berupa pisau dan gurdi dari batu. Alat ini banyak ditemukan di gua-gua Sulawesi Selatan, Flores, dan Timor. Alat-alat tulang berupa belati, sudip, mata kail, dan penusuk ditemukan di Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan.

B. Corak Masyarakat Zaman Mesolitikum
    Manusia purba yang hidup pada tingkat berburu dan meramu tingkat lanjut tinggal di gua-gua alam serta gua payung (abris sous roche) yang letaknya tidak jauh dari sumber air, danau, atau sungai
yang kaya ikan, siput, dan kerang. Mereka yang tinggal di tepi pantai/ muara sungai membangun permukiman berupa rumah panggung. Dugaan tersebut disimpulkan dari temuan bukit remis (kyokkenmodinger) di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara.
Mereka sudah mulai mengenal kepercayaan tentang hidup sesudah mati dan kesenian. Hal itu terlihat dari aktivitas berikut.
1. Mengubur Mayat
    Pada umumnya mayat dikubur dengan posisi jongkok, tangan terlipat di bawah dagu/di depan perut, disertai bekal kubur berupa perhiasan kulit kerang. Bahkan, ada beberapa tulang kerangka yang diberi hematit (bahan pewarna dari oker). Cara ini dikenal pula sebagai penguburan mayat sekunder (dua kali). Contoh gua yang pernah digunakan sebagai tempat tinggal oleh manusia prasejarah:
2. Membuat Lukisan pada Dinding Gua Tempat Tinggalnya
    Mereka melukis dinding gua tempat tinggalnya dengan cara menggores dan mengecat (hitam, merah, dan putih) serta cap tangan yang sebelumnya sudah ditaburi cat oker. Pada gua Pattae di Sulawesi Selatan ditemukan lukisan cap tangan (berkaitan dengan perkabungan) dan lukisan babi rusa (keberhasilan perburuan). Pada gua Leang-Leang di Sulawesi Selatan terdapat gambar berwarna seekor babi hutan yang sedang berlari dan lukisan cap tangan. Selain itu, di gua Jarie dan gua Burung juga ditemukan lukisan cap tangan. Pada dinding gua-gua di Seram dan Papua Barat dilukiskan perahu (lambang alat transpor ke dunia roh) dan manusia bertopeng (melindungi dari gangguan roh jahat). Lukisan serupa juga ditemukan di Pulau Muna (Sulawesi Selatan).

Zaman Paleolitikum / Batu Tua (Manusia Purba, Keudayaan Pacitan dan Ngandong, Corak Kehidupan Masyarakat Zaman Paleolitikum)

Paleolitikum berasal dari kata Palaeo artinya tua, dan Lithos yang artinya batu sehingga zaman ini disebut zaman batu tua. Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kurang lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan manusia masih sangat sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden), dan bergantung pada alam. Mereka memperoleh makanan dengan cara berburu, mengumpulkan buah-buahan, umbi-umbian, serta menangkap ikan. Cara hidup seperti ini dinamakan food gathering. Pada masa paleolitikum ini kehidupan manusia prasejarah yang mempunyai corak berburu dan meramu. Berburu adalah kegiatan manusia purba untuk memperoleh bahan makanan dengan cara memburu binatang, memasang perangkap, dan menjeratnya. Meramu adalah kegiatan untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara mengumpulkan tumbuh-tumbuhan langsung dari alam.
A. Manusia Purba Zaman Paleolitikum
     Temuan arkeologis pada zaman Paleolitikum didukung oleh temuan manusia purba sebagai berikut.
1. Meganthropus Palaeojavanicus, manusia purba ini dianggap sebagai manusia tertua yang hidup di Jawa kira-kira 2-1 juta tahun yang lalu. Rahangnya mirip kera diperkirakan terus berevolusi. Fosil manusia yang memiliki rahang besar ini ditemukan pada 1941 di Desa Sangiran, lembah Sungai Bengawan Solo oleh Von Koenigswald.
2. Pithecanthropus Robustus dan Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan 1936 di lembah Kali Berantas oleh Von Koenigswald.
3. Pithecanthropus Erectus ditemukan 1890 di Desa Trinil, lembah Bengawan Solo oleh E. Dubois.
4. Homo Soloensis dan Homo Wajakensis ditemukan antara 1931-1934 di Solo dan Wajak.
    Dibawah ini adalah gambar dari tengkorak homo soloensis:
tengkorak homo soloensis

B. Kebudayaan Pacitan dan Ngandong / Peralatan Hidup Manusia Purba
    Untuk mendukung kehidupannya, manusia purba menggunakan dan membuat beragam peralatan yang terbuat dari bahan batu, kayu, tanduk, dan tulang ikan. Artefak dan fosilnya sebagian besar
masih bisa ditemukan kecuali peralatan yang terbuat dari kayu. Hasil kebudayaannya banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong Jawa Timur. Para arkeolog sepakat untuk membedakan
temuan benda-benda prasejarah di kedua tempat tersebut, yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
Teknik pembuatan alat masih sederhana sehingga menghasilkan alat-alat yang kasar karena tidak dihaluskan. Jenis-jenis alat zaman berburu dan meramu tingkat awal sebagai berikut.
1. Alat Keudayaan Pacitan
    Alat budaya Pacitan yang berasal dari batu ada dua, yaitu tradisi batu inti yang terdiri atas kapak perimbas (chopper) dan kapak genggam (hand adze). Kapak perimbas digunakan untuk merimbas kayu, pemecah tulang, dan sebagai senjata. Kapak genggam digunakan untuk menggali, memotong, dan menguliti. Alat-alat ini ditemukan di Punung, Pacitan (Jawa Timur) dan di beberapa tempat lain.
Alat-alat budaya Pacitan juga ditemukan di Jampang Kulon (Sukabumi, Jawa Barat); Gombong (Kebumen, Jawa Tengah); Ngadirojo dan Sambungmacan (Sragen, Jawa Tengah), Tanjungkarang (Lampung); Awang Bangkal (Kalimantan Selatan); Cabbenge (Sulawesi Tenggara), Sembiran dan Trunyan (Bali); Batutring (Sumbawa), Wangka, Mengeruda, Alabula, Maumere (Flores); serta Atambua, dan Kefamenanu (Timor).
Alat Keudayaan Pacitan
    Gambar di atas merupakan peninggalan zaman Palaeolithikum yang ditemukan oleh Von Koenigswald pada 1935 di Pacitan yang diberi nama kapak genggam. Alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai, cara mempergunakannya dengan cara mengenggam. Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, atau dalam ilmu prasejarah disebut dengan chopper yang artinya alat penetak. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya sebagai tempat menggenggam. Daerah penemuan kapak perimbas atau kapak genggam selain di Pacitan Jawa Timur juga ditemukan di daerah-daerah lain, seperti Jampang Kulon, Parigi Jawa Timur, Tambang Sawah, Lahat, dan Kalianda Sumatra, Awang Bangkal Kalimantan, Cabenge Sulawesi, Sembiran dan Terunyan Bali. Di sekitar daerah Madiun Jawa Timur ditemukan kapak genggam dan alat-alat dari tulang dan tanduk. Alat-alat dari tulang tersebut bentuknya ada yang seperti belati dan ujung tombak yang bergerigi pada sisinya. Adapun fungsi dari alat-alat tersebut adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta menangkap ikan.
FLAKES
    Selain tradisi batu inti, ada juga tradisi batu serpih atau flakes yang meliputi gurdi untuk membuat lubang, pisau untuk memotong, dan tombak untuk menombak. Flakes terbuat dari batu biasa dan ada
juga yang dibuat dari batu-batu indah berwarna seperti calsedon. Alat budaya serpih bilah berupa penggaruk, serut, gurdi, penusuk, maupun pisau ditemukan di Punung Pacitan, Sangiran, Gombong, Lahat, Cabbenge, Maumere, Mengeruda, dan Atambua (NTT). Alat yang bernama flakes mempunyai fungsi sebagai alat untuk menguliti hewan buruannya, mengiris daging atau memotong umbi-umbian. Fungsinya seperti pisau pada masa sekarang.
2. Alat Kebudayaan Ngandong
    Alat budaya Ngandong dibuat dari tanduk, tulang, dan duri ikan. Alat budaya ini terdiri atas sudip, mata tombak, dan belati/penusuk. Alat-alat ini ditemukan di Ngandong, Blora (Jawa Tengah).

C. Corak Kehidupan Masyarakat
    Tahap berburu dan meramu tingkat awal berlangsung sejak 2 juta sampai 10.000 tahun yang lalu. Tahap ini berlangsung pada zaman pleistosen. Manusia yang hidup pada zaman itu adalah Homo erectus dan Homo sapiens. Untuk mendapatkan makanan, pada masa itu manusia purba hanya tinggal mengambilnya dari alam. Caranya dengan berburu dan mengumpulkan bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu, biasanya mereka memilih kawasan yang berupa padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil di sekitarnya atau dekat dengan sumber air, sungai, danau, dan rawa. Pada tahap berburu dan meramu tingkat awal ini, Homo erectus dan Homo wajakensis biasanya tinggal di dalam gua-gua. Mereka biasa berburu gajah purba, banteng purba, dan binatangbinatang hutan lainnya. Gua adalah tempat yang relatif aman dan sudah dalam kondisi siap pakai. Gua-gua itu biasanya mereka gunakan sebagai tempat istirahat sementara saat harus mencari makan dan berpindah tempat. Artinya, mereka hidup secara setengah menetap dan setengah mengembara. Gua yang dipilih adalah gua alam atau cave dan gua payung bukit karang atau rock/abris sous roche. Letak gua biasanya dekat sebuah sumber air dan makanan.
     Kehidupan manusia purba dalam gua-gua itu biasanya membentuk kelompok kecil terdiri atas 20–30 orang. Pembentukan kelompok kecil ini mempunyai beberapa keunggulan, terutama untuk menghadapi serangan musuh bersama, melaksanakan kegiatan berburu dan meramu, menghadapi datangnya serangan binatang liar, serta mempermudah pengembaraan. Dengan membentuk kelompok-kelompok kecil, manusia prasejarah telah mengenal pembagian tugas atau kerja. Misalnya saat berburu binatang dibutuhkan beberapa laki-laki yang mempunyai ketangkasan dan kecepatan dalam berlari. Pekerjaan ini tidak sesuai dengan karakter wanita. Mereka mungkin bisa membantu saat harus meramu atau menguliti binatang buruan. Selain itu, wanita bertugas menjaga gua dan merawat anak.
Setelah zaman paleolitikum ini muncul zaman mesolitikum, semoga bermanfaat :)