Showing posts with label IPA. Show all posts
Showing posts with label IPA. Show all posts

Friday, June 11, 2021

Sebutkan Unsur Penyusun Atmosfer dan Fungsi Lapisan Atmosfer?

Atmosfer adalah lapisan gas yang menyelimuti sebuah planet. Atmosfer sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Atmos yang berarti uap dan Shapira yang berarti bulatan. 

Atmosfer adalah lapisan uap yang menyelimuti bulatan planet. Di Bumi, Atmosfer berada di ketinggian 0-1000 Km. Setiap lapisan Atmosfer memiliki karateristik dan peran yang berbeda.

Unsur Penyusun Atmosfer

Atmosfer yang menyelimuti bumi memiliki kandungan berbagai unsur gas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak tabel dibawah ini

JENIS GAS PERSENTASE
Nitrogen (N2) 78,08%
Oksigen (O2) 20,95
Argon (Ar) 0,93%
Karbondioksida (CO2) 0,035%
Neon (Ne) 0,0018%
Matana (CH4) 0,0017%
Helium (He) 0,00005%
Hidrogen (H2) 0,000005%
Xenon (Xe) 0,000009%
Ozon (O3) 0,000004%
Klorofluorokarbon (CFC) 0,00000002%


Dari tabel diatas, gas Nitrogen (N2) merupakan penyusun Atmosfer yang paling banyak, kemudian disusul Oksigen (O2). Unsur gas tersebut memiliki fungsinya masing-masing. Contoh saja, dalam lapisan Atmosfer terdapat unsur gas Karbondiokasida (CO2). Walaupun manusia dan hewan tidak memerlukan gas ini, namun tumbuhan memerlukannya untuk proses fotosintesis. 

Terdapat juga kandungan lain seperti Ozon yang berfungsi untuk menghalangi sinar Ultra Violet matahari.

Lapisan Atmosfer

 
 Sumber Gambar: Jagad
 
Lapisan Atmosfer terdiri dari 5 lapisan yang memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda. Lapisan-lapisan tersebut adalah

Troposfer

Troposfer adalah lapisan dari Atmosfer yang paling bawah. Lapisan ini memiliki ketinggian antara 0-10 Km. Ketebalanya berbeda antara dibagian kutub, yaitu 0-8 Km dan dibagian garis ekuator ketebalannya 0-16 Km. Pada lapisan Troposfer inilah gejala-gejala cuaca terjadi seperti Hujan, Awan, dan Petir. Pada lapisan ini berlaku Gradien Temperatur Vertikal, yaitu perubahan temperatur suhu sesuai dengan perubahan ketinggian pada waktu tertentu dan tempat tertentu.

Stratosfer

Lapisan ini adalah lapisan kedua dari Atmosfer bumi. Lapisan Stratosfer memiliki ketinggian 10-50 Km. Pada lapisan ini terdapat Ozon yang berfungsi melindungi bumi dari Radiasi Matahari yang bisa berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup.

Diantara Lapisan Troposfer dan Lapisan Stratosfer terdapat zona aman untuk penerbangan. Lapisan ini dinamakan Tropopause. Kenapa bisa aman? Karena pada lapisan ini gejala cuaca, seperti awan, hujan, petir dan lain-lain tidak ditemukan.

Lapisan Stratosfer sendiri terdiri dari dua lapisan yaitu Lapisan Isotermal (11-20 Km) dan lapisan Inverse (20-49 Km)

Mesosfer

Lapisan Mesosfer memiliki ketinggian 50-85 Km. Dengan suhu yang sangat dingin yaitu -1000 Celcius, Lapisan ini berfungsi melindungi Bumi dari ancaman jatuhnya benda-benda angkasa seperti Meteor.

Pada lapisan Mesosfer ini terdapat lapisan bermuatan listrik yaitu Ionosfer yang seringkali menyebabkan terjadinya fenomena Aurora dari uap air atau debu meteor yang hancur saat melawati lapisan Mesosfer.

Batas antara Lapisan Stratosfer dan Lapisan Mesosfer disebut Stratopause.

Termosfer

Lapisan ini berjarak 85-500 Km dari permukaan laut. Dengan jarak yang begitu tinggi, lapisan paling atas Termosfer bisa memiliki suhu sampai 10000 Celcius. Maka lapisan ini juga disebut Zona Panas (Hot Layer).

Pada lapisan ini terdapat juga lapisan Ionosfer yang yang berfungsi menjadi pemantul gelombang radio agar tidak hilang keluar angkasa (tergantung jenis dan frekuensinya) karena adanya Appleton (lapisan F) yang berasal dari ionisasi gas-gas oleh radiasi Matahari yang menyebabkan fenomena aurora dari debu meteor dan uap air. Partikel ion yang terbentuk inilah yang menjadi pemantul gelombang radio bumi.

Batas antara Lapisan Mesofer dan Lapisan Termosfer disebut Mesopause.

Eksosfer

Lapisan Eksosfer adalah lapisan terluar dari susunan Lapisan Atmosfer. Eksosfer berada di ketinggian 500-1000 Km dari permukaan bumi. Pada lapisan ini gaya gravitasi bumi hampir tidak ada. Sehingga jika ada benda, maka benda tersebut akan melayang-layang.

Lapisan Eksosfer memiliki kandungan gas Hidrogen yang sangat banyak, serta sering terjadi fenomena cahaya redup (zodiakal dan gegen-chein) yang disebabkan oleh pantulan sinar matahari yang mengenai debu meteor.

Fungsi Lapisan Atmosfer

Saya kira sudah sangat jelas apa yang sudah saya jelaskan diatas, namun untuk agar lebih afdol akan saya ringkas kembali fungsi Atmosfer bagi bumi

  1. Manjadi pelindung bumi dari benda-benda angkasa yang jatuh
  2. Melindungi bumi dari radiasi berbahaya
  3. Menjadi penyetabil suhu udara dibumi
  4. Manjadi pemantul gelombang radio
  5. Dan menjadi penunjang kehidupan dengan adanya gas-gas yang terkandung didalamnya.

Sumber: wikipedia dan sumber lain

Wednesday, March 18, 2020

3 Hikmah Diciptakannya Bintang Menurut Al-Qur'an

Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan bintang-bintang yang bertebaran di langit memiliki hikmah penting sebagai bahan renungan bagi manusia.

Berdasarkan Hadits Nabi SAW, ada tiga hikmah diciptakannya bintang.
خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا
Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara, Allah menjadikannya sebagai perhiasan untuk langit, untuk melempar para syaitan, dan untuk menjadi alamat (tanda-tanda) sebagai penunjuk arah.” (Shahih Al-Bukhari 4/107)

Di dalam Al-qur'an disebutkan beberapa hikmah penciptaan Bintang-bintang :

1. Sebagai Pelempar Setan
Hikmah diciptakannya bintang untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al Mulk:
وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 5)

Setan mencuri berita langit dari para malaikat langit. Lalu ia akan meneruskannya pada tukang ramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut. Apalagi ketika diutus Nabi ﷺ, langit terus dilindungi dengan percikan api. 

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا, وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا
“Dan sesungguhnya kami (para jin – pent) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami (para jin – pent) tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu), apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 9-10).
2. Sebagai Perhiasan Langit
Sebagaimana tersyirat dalam QS. Al-Mulk Ayat 5:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ
"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang" (QS. Al Mulk: 5)
3. Tanda untuk petunjuk
Sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَعَلاَمَاتٍ وَبِالـنَّـجْمِ هُمْ يَـهْتَدُونَ
Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl : 16)
 Dan firman Allah SWT dalam QS: Al-an’am ayat 97:
وهو الذي جعل لكم النجوم لتهتدوا بها في ظلمات البر والبحر
Dan Dialah (Allah SWT) yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kamu menjadikan petunjuk dalam kegelapan didarat dan dilaut” (QS : Al-An’am: 97)
Ayat ini dapat diartikan bahwa Allah SWT telah merekayasa bintang-bintang di langit membentuk sebuah komfigurasi khusus sebagai konstelasi atau rasi bintang, sehingga dapat menentukan arah. 
Allah SWT telah memberikan bintang sebagai petunjuk. Selama beberapa abad para pelaut dan penjelajah menggunakan bintang untuk menemukan jalan dan arah mata angin. Bintang adalah karunia yang besar bagi manusia dapat membantu manusia disaat tersesat.

Bintang dan Ilmu Pengetahuan
Jauh sebelum adanya ilmu falak atau ilmu astronomi, Alquran sudah terlebih dahulu menjelaskan hikmah diciptakannya bintang yakni sebagai pentujuk arah atau rasi bintang bagi manusia.
Perlu diketahu, ilmu astronomi adalah ilmu bintang yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.
Ilmu astronomi digunakan untuk mentukan arah kiblat, waktu solat, Awal bulan hijriyyah, Gerhana matahari dan bulan dan sebagai pentujuk arah mata angin.

Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh atau tidaknya mempelajari ilmu falak atau kedudukan bintang. Qotadah dan Sufyan bin ‘Uyainah melarang mempelajari posisi benda langit, alasannya saddu adz dzari’ah yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang. Dikhawatir jika kedudukan bintang dipelajari, akan diyakini bahwa posisi benda langit tersebut bisa berpengaruh pada takdir seseorang.
Kebanyakan ulama termasuk Imam Ahmad dan Ishaq bin Rohuyah membolehkan mempelajari ilmu falak atau astronomi. Disebabkan banyaknya manfaat yang diperoleh dari ilmu ini, d antaranya bisa dipakai untuk kepentingan agama seperti mengetahui arah kiblat dan waktu shalat. Atau untuk urusan dunia seperti mengetahui pergantian musim.
Sedangkan ilmu yang terlarang untuk dipelajari adalah ilmu astrologi. Dalam ilmu astrologi, ada keyakinan bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib seseorang. Padahal tidak ada kaitan ilmiah antara posisi benda langit dan nasib seseorang.
 Demikianlah uraian tentang Hikmah Diciptakannya Bintang Menurut Al-Qur'an
Wallahu A'lam Bishawab

Sumber:
Ahmad Baiquni, Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi
Muhammad Hasan, Benda Astronomi Dalam Al-Quran Dari Perspektif Sains
Caner Taslaman, Miracle of the Quran
Anas Abdul Hamid Alquz, Ibnu Qayyim Berbicara Tentang Manusia dan Semesta

Macam-macam Fungsi Bulan Menurut Al-Qur'an

Siswanews || Dalam penciptaan alam semeseta beserta isinya  Allah SWT menciptakannya penuh keserasian, keharmonisan dan keteraturan, tentu saja bukan tanpa kebetulan, melainkan dengan haqq, di mana terdapat tujuan dan manfaat dalam penciptanya. 

Begitu juga diciptakannya bulan memiliki tujuan dan manfaat untuk kehidupan makhluk di Bumi, serta untuk menuntun manusia menuju keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya.

Berikut Macam-macam Fungsi Bulan Menurut Al-Qur'an:
Pertama, Bulan sebagai Satelit Bumi
Cahaya bulan akan menerangi bumi di malam hari, peristiwa ini terjadi akibat hilangnya cahaya matahari karena rotasi bumi. Penduduk bumi bisa melihat kehadiran bulan setiap malam hari dan terbenam di pagi hari.
Proses terbit dan terbenamnya bulan ini mengisyaratkannya sebagai satelit bumi. Hal ini diungkapkan dalam Alquran.
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat". (QS. Al-An'am: 77)

Dalam buku Tafsir Ilmi 'Manfaat Benda-Benda Langit dalam perspektif Alquran dan Sains' yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan bulan sebagai satelit Bumi.
Bulan merupakan salah satu satelit bumi yang mengelilingi bumi. Bulan berdiameter 3.475 km dan mengelilingi bumi dari arah barat ke timur selama 29 hari 12 jam 44 menit 2 detik.
Kedua, Bulan sebagai Penunjuk Waktu
Terciptanya bulan membantu manusia untuk menghitung waktu hari, bulan, dan tahun. Hal ini juga membantu umat Islam untuk mengetahui waktu-waktu untuk beribadah dan berinteraksi dengan sesama. Bulan sebagai acuan untuk perhitungan waktu juga telah dijelaskan dalam Alquran.
وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Dan Dia menjadikan malam untuk beristiahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan,” (QS. Al An’am: 96)
Ayat ini mengisyaratkan dengan sangat jelas fungsi bulan. وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ yakni menjadikan matahari dan bulan sebagai tempat atau media untuk menghitung waktu.
Dalam ayat lain juga dijelaskan:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat persinggahannya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” (QS. Yunus: 5)
Allah telah menciptakan hilal atau bulan sabit sebagai tanda yang akurat bagi manusia untuk mengetahui waktu-waktu ibadah mereka seperti haji, puasa ramadan, pembayaran zakat dan waktu lainnya.

Ketiga, Bulan Sebagai Tanda Hari Kiamat
Alquran menerangkan peristiwa sebelum terjadinya hari kiamat. Seperti yang tertuang dalam QS. Alqiyamah ayat 7-10 dimana tanda-tanda akan terjadinya kiamat yakni telah hilangnya cahaya bulan.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ يَقُولُ ٱلْإِنسَٰنُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ ٱلْمَفَرُّ
“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah hilang cahayanya,  dan matahari dan bulan dikumpulkan pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?” (QS. Alqiyamah: 7-10)
Dalam ayat-ayat ini, Allah menerangkan tiga hal tanda kedatangan hari kiamat, yakni:
1. Apabila mata terbelalak (karena ketakutan).
Pada waktu itu, mata tidak sanggup menyaksikan sesuatu hal yang sangat dahsyat. Dalam ayat lain tercantum makna yang sama, yakni:
مُهْطِعِيْنَ مُقْنِعِيْ رُءُوْسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ اِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَاَفْـِٕدَتُهُمْ هَوَاۤءٌ
Mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (QS:Ibrahim: 43)
2. Apabila bulan telah hilang cahayanya untuk selama-lamanya
3. Matahari dan bulan dikumpulkan.
Artinya matahari dan bulan saling bertemu, keduanya terbit dan terbenam pada tempat yang sama, menyebabkan gelapnya suasana alam semesta ini. Padahal keadaan begitu tidak pernah terjadi, masing-masing berada dalam posisi yang telah ditentukan.
Allah ﷻ berfirman:
لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ
Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang.
Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS: Yasin:40)

Pada saat itulah manusia yang kafir menyadari betapa janji Allah menjadi kenyataan. Semua orang berusaha hendak menyelamatkan diri.
Adapun kalimat wa khasaf al-qamar pada ayat di atas berarti bahwa bulan kehilangan cahayanya. Perlu diperhatikan bahwa pada ayat di atas, pernyataan “bulan kehilangan cahayanya” diungkapkan sebelum pernyataan “lalu matahari dan bulan dikumpulkan.”
Ini berarti bahwa hilangnya cahaya bulan terjadi sebelum dikumpulkannya bulan dengan matahari. Ini merupakan salah satu kemukjizatan ilmiah Alquran di bidang astronomi.
Para pakar mengatakan bahwa ketika bulan menjauhi bumi, pantulan cahaya matahari di bulan akan melemah secara perlahan-lahan hingga benar-benar sirna. Inilah arti dari hilangnya cahaya bulan.
 Wallahu A'lam Bishawab
 Sumber:
Nadiah Thayyarah, Buku Pintar Sains Dalam Al-Qur’an
Muhammad Hasan, Benda Astronomi Dalam Al-Quran Dari Perspektif Sains
Tafsir Al-quran, Kementrian Agama RI
Caner Taslaman, Miracle of the Quran
Anas Abdul Hamid Alquz, Ibnu Qayyim Berbicara Tentang Manusia dan Semesta