Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi. Show all posts

Sunday, July 31, 2016

Ledakan Penduduk (Pengertian, Faktor Penyebab, Dampak Negatif, dan Cara Mengatasi Ledakan Penduduk)


Ledakan penduduk adalah suatu keadaan kependudukan yang memperlihatkan pertumbuhan yang melonjak cepat dalam jangka waktu yang relatif pendek. Ledakan penduduk biasanya terjadi karena angka kelahiran sangat tinggi, sedangkan angka kematian mengalami penurunan yang drastis. Penurunan angka kematian yang drastis ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena membaiknya kondisi kesehatan dan perbaikan gizi masyarakat.  Jumlah penduduk dapat bertambah dengan sangat besar. Hal itu dapat terjadi bila tingkat kelahiran meningkat tajam dan angka kematian menurun drastis. Penurunan kematian dan kenaikan tingkat kelahiran terjadi karena semakin bagusnya tingkat kesehatan. Pertumbuhan penduduk yang tinggi umumnya terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang tinggi jika tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas ekonomi maka akan menurunkan kesejahteraan penduduk suatu negara. Di samping itu, kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup semakin parah akibat dieksploitasi oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dampak ledakan penduduk antara lain semakin tingginya angka pengangguran, kriminalitas, dan memburuknya kondisi sosial lainnya.
       Pada umumnya, ledakan penduduk terjadi pada negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. Pertambahan penduduk Indonesia dalam kurun waktu hanya 40 tahun meningkat lebih dari 100%. Pada tahun 1961, jumlah penduduk Indonesia hanya 97.985.000 jiwa, tetapi pada tahun 2000 telah meningkat menjadi 203.456.000 jiwa. Ledakan penduduk sebagai akibat pertumbuhaan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Ledakan Penduduk (Pengertian, Faktor Penyebab, Dampak Negatif, dan Cara Mengatasi Ledakan Penduduk)

Faktor-Faktor Penyebab Ledakan Penduduk
    Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya ledakan penduduk adalah:
1. Tingkat kematian yang menurun.
2. Tingkat kelahiran yang tinggi.
3. Adanya kawin usia muda.
4. Adanya rasa tanggung jawab pada keluarga.
5. Adanya sikap religi bahwa anak adalah anugerah Tuhan.
6. Adanya faktor wanita masih sebagai tenaga di rumah.


Dampak Negatif Ledakan Penduduk
    Beberapa dampak negatif yang timbul sebagai akibat terjadinva ledakan penduduk di antaranya sebagai berikut.
1. Tingkat kemiskinan semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang cepat biasanya tidak serta merta diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang cepat.
2. Pertumbuhan penduduk yang cepat tidak seimbang dengan peningkatan produksi pangan dapat mendorong kekurangan pangan.
3. Timbulnya permukiman atau daerah kumuh di perkotaan sebagai akibat mahalnya harga tanah dan rumah.
4. Pemerintah mengalami kesulitan menyediakan sarana kebutuhan masyarakat seperti sarana pendidikan dan kesehatan, perumaham, dan lain-lain disebabkan memerlukan dana yang besar dan lokasinya padat oleh permukiman penduduk.

5. Meningkatnya kebutuhan akan ruang dan lingkungan hidup.
6. Menimbulkan persaingan (pertentangan) di masyarakat sebagai akibat meningkatnya kebutuhan akan pangan dan kebutuhan lainnya.
7. Tidak seimbangnya kebutuhan akan lapangan pekerjaan dengan pertumbuhan penduduk yang dengan sendirinya menim-bulkan banyak pengangguran dan masalah sosial lainnya.
8. Timbulnya kemiskinan, rumah kumuh, pertentangan antar etnik, tawuran warga yang diawali dengan hal-hal kecil dan stabilitas politik yang tidak mantap akan nampak menjadi pemandangan rutinitas yang sulit untuk mengatasinya.


Cara Menanggulangi / Mengatasi Ledakan Penduduk
      Jika dampak dari ledakan penduduk tidak segera diatasi, dapat mengakibatkan suatu negara mengalami kesulitan dalam mempercepat proses pembangunannya. Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak ledakan penduduk, di antaranya:
1. melaksanakan program Keluarga Berencana (KB), yaitu mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui cara pengendalian kelahiran;
2. menggalakan program transmigrasi;
3. meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga kemampuannya bekerja untuk membangun dirinya menjadi lebih baik;
4. memperluas lapangan kerja;
5. pengiriman tenaga kerja ke negara tetangga.

Masalah Kependudukan dan Cara Menanggulanginya (Kemiskinan, Masalah Pendidikan, Kesehatan, Pengangguran, dan Rendahnya Pendapatan Perkapita)


Masalah kependudukan dalam hal kualitas adalah masalah kependudukan dalam hal mutu kehidupan dan kemampuan sumber daya manusianya. Di Indonesia, masalah kualitas penduduk yang terjadi, antara lain, dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, rendahnya taraf kesehatan sehingga kesemuanya itu pada akhirnya mengarah pada rendahnya pendapatan perkapita masyarakatnya.Pertumbuhan penduduk yang pesat dan tidak merata serta tanpa diimbangi dengan pencapaian kualitas SDM yang tinggi mengakibatkan muculnya berbagai permasalahan-permasalahan kependudukan.
Masalah Kependudukan dan Cara Menanggulanginya (Kemiskinan, Masalah Pendidikan, Kesehatan, Pengangguran, dan Rendahnya Pendapatan Perkapita)
1. Kemiskinan
    Kemiskinan merupakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan materiil dasar berdasarkan standar tertentu. Adapun standar ini lebih dikenal dengan garis kemiskinan, yaitu tingkat pengeluaran atas kebutuhan pokok yang meliputi sandang, pangan, papan secara layak.
Untuk menanggulangi kemiskinan tersebut, pemerintah Indonesia mencanangkan Inpres Desa Tertinggal. Program ini dilakukan dengan melalui dua tahap. Pertama pemerintah menentukan desa-desa yang memiliki pemusatan penduduk miskin yang tinggi, yang disebut desa tertinggal. Jumlah desa tertinggal mencapai sepertiga dari jumlah seluruh desa di Indonesia. Kedua, pemerintah menghimpun penduduk-penduduk di desa tertinggal ke dalam suatu wadah di bawah naungan lembaga kesejahteraan desa, misalnya KUD, kelompok tani, dan sebagainya. Kemudian pemerintah memberikan anggaran bagi tiap desa tertinggal yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok di sana untuk memulai usaha yang dapat berjalan, berkelanjutan, ramah lingkungan, dan tepat.
Upaya yang berbeda juga dapat diterapkan untuk menanggulangi kemiskinan, di antaranya:
a. Meningkatkan sumber daya ekonomi yang dimiliki penduduk miskin
    Misalnya dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang sempit dengan intensifikasi pertanian, memberikan bekal keterampilan untuk mengolah barang-barang bekas di sekitarnya, misalnya kaleng bekas, besi bekas, plastik bekas, membimbing penduduk untuk jeli memerhatikan dan memanfaatkan peluang usaha di sekitarnya, seperti penduduk yang tinggal di daerah rawa memanfaatkan enceng gondok untuk bahan kerajinan, penduduk di daerah gunung memanfaatkan bunga pinus sebagai kerajinan, dan lain-lain.
b. Memberikan program penyuluhan dan pembekalan keterampilan
    Pemerintah hendaknya intensif terjun ke masyarakat untuk memberikan pengajaran dan pelatihan keterampilan bagi penduduk miskin agar dapat menghasilkan sesuatu guna menunjang pendapatannya. Pemerintah mencarikan bapak asuh terutama para pengusaha-pengusaha untuk menggandeng masyarakat dalam mengembangkan usaha.
c. Menyediakan pasar-pasar bagi penjualan produksi penduduk
    Pasar merupakan fasilitas penting dalam menunjang pendapatan penduduk. Selain sebagai tempat memasarkan hasil produksi masyarakat, keberadaan pasar juga bisa memotivasi masyarakat untuk lebih produktif lagi. Karena masyarakat tidak perlu kawatir lagi akan mengalami kesulitan memasarkan hasil produksinya.

2. Masalah Pendidikan

    Pendidikan merupakan salah satu indikator kualitas penduduk. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dicapai, maka semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Secara umum, tingkat pendidikan penduduk Indonesia masih tergolong relatif rendah. Akan tetapi, tingkat pendidikan masyarakat tersebut senantiasa diupayakan untuk selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Masalah Pendidikan

Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sebab rendahnya tingkat pendidikan.

Hal-hal yang memengaruhi rendahnya tingkat pendidikan di negara Indonesia, antara lain meliputi hal-hal berikut ini.
a. Kurangnya kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan, sehingga mereka tidak perlu sekolah terlalu tinggi (khususnya untuk anak perempuan).
b. Rendahnya penerimaan pendapatan perkapita, sehingga orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya lebih lanjut atau bahkan tidak disekolahkan sama sekali.
c. Kurang memadainya sarana dan prasarana pendidikan, khususnya di pedesaan dan daerah-daerah terpencil.
d. Keterbatasan anggaran dan kemampuan pemerintah dalam mengusahakan program pendidikan yang terjangkau masyarakat.
      Dampak rendahnya tingkat pendidikan penduduk adalah pada kemampuan penduduk tersebut dalam memahami dan menghadapi kemajuan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Penduduk yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah memahami dan beradaptasi dalam menghadapi perkembangan zaman, sehingga mereka akan lebih produktif dan inovatif.
Upaya Penanggulangan Masalah Pendidikan
     Untuk menyikapi hal-hal tersebut, pemerintah telah mengambil beberapa upaya dalam memperluas dan meratakan kesempatan memperoleh pendidikan, diantaranya dengan jalan berikut ini.
a. Menggalakkan program wajib belajar 9 tahun.
b. Mendorong kesadaran masyarakat yang mampu atau badanbadan usaha untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak kurang mampu.
c. Menyediakan beasiswa bagi siswa berprestasi, khususnya bagi siswa berprestasi yang kurang mampu.
d. Membuka jalur-jalur pendidikan alternatif atau nonformal (seperti kursus-kursus keterampilan) sehingga dapat memperkaya kemampuan atau kualitas seseorang.
e. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana belajar mengajar hingga ke pelosok daerah.
    Pengembangan sistem pendidikan nasional saat ini telah dipertegas dalam Undang-Undang No 2 Tahun 1989, sehingga diharapkan mampu mempertegas arah pembangunan yang dilakukan pemerintah dalam upaya mencerdaskan bangsa.


3. Masalah Kesehatan
    Kualitas penduduk berpengaruh terhadap kemiskinan, ternyata juga berpengaruh pada kesehatan penduduk. Kemiskinan akan berdampak pada kesehatan. Penduduk miskin cenderung memiliki pola hidup kurang bersih dan tidak sehat. Kondisi kehidupan yang memprihatinkan mengharuskan penduduk miskin bekerja keras melebihi standar kerja penduduk yang lebih mampu, sehingga mengesampingkan aspek kesehatannya. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar secara layak berdampak pada kesehatan mereka. Ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara sehat dan bergizi berdampak
pada rendahnya gizi. Ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan perumahan mengharuskan mereka tinggal di kolong jembatan, bantaran sungai, atau rumah seadanya, sehingga kebutuhan akan sanitasi air bersih juga tidak terpenuhi. Ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pakaian secara layak berdampak pada kesehatan kulit dan organ-organ tubuh lainnya. Dampak dari tingkat kesehatan penduduk yang rendah
tersebut adalah tingginya angka kematian (terutama bayi dan ibu).
Untuk menanggulangi masalah kesehatan tersebut dapat dilakukan dengan:
a. Peningkatan gizi masyarakat
    Hal ini dapat dilakukan dengan memberi makanan tambahan yang bergizi terutama bagi anak-anak. Program ini dapat dioptimalkan melalui pemberdayaan posyandu dan kegiatan PKK.
b. Pelaksanaan imunisasi
    Berdasarkan prinsip pencegahan lebih baik dari pengobatan, program imunisasi bertujuan melindungi tiap anak dari penyakit umum. Hal tersebut dapat dilaksanakan melalui PIN (Pekan Imunisasi Nasional).
Masalah Kesehatan

PIN merupakan bentuk pemerataan kesehatan yang didukung oleh badan kesehatan dunia (WHO).

c. Penambahan fasilitas kesehatan
    Fasilitas kesehatan harus mampu menampung dan menjangkau masyarakat di daerah-daerah tertinggal. Penambahan fasilitas kesehatan ini meliputi rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, polindes (pondok bersalin desa), posyandu. Penambahan fasilitas ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, seperti imunisasi, KB, pengobatan, dan lain-lain. Dengan demikian dapat mengurangi tingginya angka kematian bayi, dan meningkatkan angka harapan hidup masyarakat.
d. Penyediaan pelayanan kesehatan gratis
    Pemerintah menyediakan pelayanan gratis bagi penduduk miskin dalam bentuk Askeskin (asuransi kesehatan masyarakat miskin) dan kartu sehat yang dapat digunakan untuk memperoleh layanan kesehatan secara murah, atau bahkan gratis di rumah sakit pemerintah atau puskesmas.
e. Pengadaan obat generik
    Pemerintah harus mengembangkan pengadaan obat murah yang dapat dijangkau oleh masyarakat bawah.
Penyediaan obat murah ini dapat berupa obat generik.
f. Penambahan jumlah tenaga medis
    Agar pelayanan kesehatan dapat mencakup seluruh lapisan masyarakat dan mencakup seluruh wilayah Indonesia diperlukan penambahan jumlah tenaga medis, seperti dokter, bidan, perawat. Tenaga medis tersebut juga harus memiliki dedikasi tinggi untuk ditempatkan di daerah-daerah terpencil serta berdedikasi tinggi melayani masyarakat miskin.
g. Melakukan penyuluhan tentang arti pentingnya kebersihan dan pola hidup sehat
    Penyuluhan semacam ini juga bisa melibatkan lembagalembaga lain di luar lembaga kesehatan, seperti sekolah, organisasi kemasyarakatan, tokoh-tokoh masyarakat. Jika kesadaran akan arti pentingnya pola hidup sehat sudah tertanam dengan baik, maka masyarakat akan dengan sendirinya terhindar dari berbagai penyakit.


4. Rendahnya Pendapatan Perkapita
    Pendapatan perkapita adalah banyaknya pendapatan kotor nasional dalam satu tahun dibagi jumlah penduduk. Pendapatan perkapita mencerminkan tingkat kemakmuran suatu negara. Pendapatan perkapita negara Indonesia masih tergolong rendah, data tahun 2002 menyebutkan pendapatan perkapita Indonesia
mencapai 2.800 dollar Amerika Serikat. Di antara negara-negara anggota ASEAN saja, Indonesia menempati urutan keenam setelah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Keadaan ini menggambarkan bahwa tingkat kehidupan masyarakat Indonesia masih didominasi masyarakat miskin atau masyarakat prasejahtera dengan tingkat penghasilan yang relatif rendah. Kondisi semacam ini dapat disebabkan keadaan sumber daya alam yang tidak merata di tiap daerah, ataupun karena ketidakseimbangan sumber daya manusia yang ada di tiap daerah.
    Dampak Rendahnya pendapatan perkapita adalah pada kelangsungan pelaksanaan pembangunan suatu negara. Beberapa rencana pembangunan akan sulit diwujudkan karena pemerintah tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membiayai pelaksanaan pembangunan. Akibatnya keadaan negara menjadi statis, tidak berkembang karena tidak mengalami kemajuan.
Upaya Penanggulangan
    Untuk mengatasi rendahnya tingkat pendapatan penduduk, pemerintah telah melakukan beberapa langkah, antara lain meliputi hal-hal berikut ini.
a. Memberikan subsidi keluarga miskin melalui berbagai program sosial.
b. Memberi keringanan biaya pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat kurang mampu.
c. Meningkatkan standar upah buruh atau upah minimum kota.
d. Memberikan modal atau pinjaman lunak dan pelatihan kepada para pengusaha mikro dan pengusaha kecil agar dapat bertahan atau dapat lebih berkembang.
e. Melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana sosial, misalnya penyediaan air bersih, WC umum, perbaikan lingkungan, ataupun sarana sanitasi lainnya.


5. Pengangguran
    Rendahnya tingkat kesehatan penduduk dan tingginya angka kekurangan gizi masyarakat, secara umum dapat berdampak pada rendahnya daya pikir dan kemampuan kerja penduduk. Oleh sebab itulah pada sebagian besar negara-negara berkembang dan negaranegara miskin, kualitas SDM-nya masih rendah, baik dalam pengetahuan maupun keterampilan. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka pengangguran. Karena pada umumnya penduduk-penduduk tersebut sulit tertampung di dunia kerja. Di samping itu, penyebab tingginya angka pengangguran adalah rendahnya kualitas pendidikan penduduk dan tingginya kuantitas penduduk. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja, menyebabkan tingkat persaingan tinggi dan tingkat kesempatan kerja cenderung menurun.
Untuk menanggulangi masalah pengangguran diperlukan dua usaha penanggulangan, yakni usaha perbaikan kualitas SDM dan penciptaan lapangan kerja.
Adapun usaha-usaha tersebut, antara lain:
a. Peningkatan keterampilan kerja masyarakat
    Program ini dapat dilakukan melalui pendidikan keterampilan singkat maupun berjangka di Balai Latihan Kerja (BLK).
b. Pembentukan Tenaga Kerja Muda Mandiri Profesional (TKMMP)
    Program ini bertujuan mencari anak-anak muda berpotensi di masing-masing daerah untuk kemudian dibimbing, dibina, dan dibentuk menjadi seorang yang mandiri dan profesional. Dari program ini diharapkan akan muncul tenagatenaga kerja muda yang mampu membuka usaha-usaha sendiri sehingga dapat menyerap tenaga kerja.
c. Pelaksanaan padat karya
    Padat karya adalah usaha yang lebih mengedepankan penggunaan dan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah banyak dibandingkan dengan modalnya.
d. Penciptaan iklim usaha dan investasi yang kondusif
    Hal ini terkait dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan politik. Jika stabilitas di masing-masing aspek tersebut kondusif, maka akan banyak orang termotivasi untuk membuka usaha. Bahkan akan memancing investor asing untuk berinvestasi dan membuka usaha di Indonesia. Dengan demikian akan dapat menambah lapangan pekerjaan baru.
(Baca juga: Piramida Penduduk dan Kepadatan Penduduk)


     Dari berbagai uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa masalah keadaan penduduk sangat memengaruhi dinamika pembangunan dalam suatu negara. Hal ini dikarenakan penduduk merupakan titik sentral dari seluruh kebijakan dan program pembangunan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah. Dengan kata lain, dalam konsep pembangunan, penduduk adalah subjek dan sekaligus objek pembangunan. Sebagai
subjek pembangunan, manusia bertindak sebagai pelaku dan pelaksana pembangunan. Adapun sebagai objek pembangunan, penduduk merupakan sasaran pembangunan. Permasalahan penduduk di Indonesia baik dari jumlah penduduk (kuantitas) maupun mutu (kualitas) merupakan suatu masalah yang dilematis dan kontradiktif. Di satu sisi jumlah penduduk yang besar merupakan modal dan potensi yang dapat meningkatkan produksi nasional apabila dapat dibina dan dikerahkan sebagai tenaga kerja yang efektif sehingga sangat menguntungkan bagi usaha pembangunan di segala bidang. Sebaliknya penduduk dengan mutu dan kualitas yang rendah yang tidak mampu bersaing karena minimnya kesempatan kerja yang tersedia, akan menjadi beban dan penghambat pembangunan. Oleh karena itu, sebagai subjek pembangunan, penduduk harus terus dibina dan dikembangkan sehingga mampu menjadi motor penggerak dan modal dasar
pembangunan. Selain itu, pembangunan juga harus dikembangkan dengan memperhitungkan kondisi dan kemampuan penduduk sehingga penduduk dapat berpartisipasi aktif dalam dinamika pembangunan. Sehingga masalah kependudukan dapat teratasi dengan baik.

Kepadatan Penduduk (Pengertian, Jenis, Faktor, Dampak, dan Cara Menanggulangi Kepadatan Penduduk)


Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk di suatu wilayah per satuan luas atau dengan kata lain perbandingan jumlah penduduk dengan luas lahan. Secara umum, tingkat kepadatan penduduk atau population density dapat diartikan sebagai perbandingan banyaknya jumlah penduduk dengan luas daerah atau wilayah yang ditempati berdasarkan satuan luas tertentu.
Jenis-Jenis kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi tiga macam, berikut ini.
1. Kepadatan Penduduk Berdasarkan Lahan Pertanian
    Kepadatan penduduk berdasarkan lahan pertanian dapat dibedakan atas kepadatan penduduk agraris dan kepadatan penduduk fisiologis.
    a. Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian dengan luas lahan pertanian. Kepadatan penduduk agraris adalah jumlah penduduk rata-rata yang menempati wilayah seluas 1 km2, yang tanahnya dapat diolah untuk pertanian. Kepadatan penduduk ini biasa disebut juga dengan kepadatan penduduk netto.
Rumus kepadatan penduduk agraris:
Kepadatan penduduk agraris = Jumlah penduduk (jiwa) / Luas tanah pertanian (km2)
    b. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah penduduk total (baik yang bermata pencaharian sebagai petani ataupun tidak) dengan luas lahan pertanian.
2. Kepadatan Penduduk Umum (Aritmatik)
    Kepadatan penduduk aritmatik adalah jumlah penduduk rata-rata yang menempati wilayah seluas 1 km2. Kepadatan penduduk aritmatik ini sering kali hanya disebut kepadatan penduduk. Kepadatan aritmatik merupakan perbandingan antara jumlah penduduk total (tanpa memandang mata pencaharian) dengan luas wilayah (baik lahan pertanian ataupun tidak). Untuk perhitungan kependudukan di Indonesia, kita menggunakan perhitungan kepadatan penduduk umum (aritmatik).
Rumus kepadatan penduduk aritmatik adalah:
Kepadatan penduduk = Jumlah penduduk (jiwa) / Luas wilayah (km2)
3. Kepadatan Penduduk Ekonomi
    Kepadatan penduduk ekonomi adalah besarnya jumlah penduduk pada suatu wilayah didasarkan atas kemampuan wilayah yang bersangkutan.

Faktor Kepadatan Penduduk
       Kepadatan penduduk di tiap-tiap wilayah Indonesia tidaklah sama, hal ini tentu saja menimbulkan permasalahan kependudukan. Permasalahan ini terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana sosial, kesempatan kerja, stabilitas keamanan, serta pemerataan pembangunan. Informasi kepadatan penduduk tiap daerah perlu diketahui untuk mengetahui ada tidaknya gejala kelebihan penduduk (overpopulation),
untuk mengetahui pusat-pusat aglomerasi penduduk, serta untuk mengetahui penyebaran dan pusat-pusat kegiatan ekonomi maupun budaya. Informasi-informasi tersebut pada akhirnya akan digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan di tiap-tiap daerah.
Peta Kepadatan Penduduk
      Tingkat kepadatan penduduk di setiap daerah senantiasa tidak merata karena memang pada lahan-lahan tertentu seperti lahan curam puncak-puncak gunung yang tinggi, daerah rawa dan daerah gurun pasir kurang cocok untuk dijadikan tempat tinggal. Adapun daerah yang akses ke berbagai pusat perbelanjaan, industri, atau yang tanahnya subur biasanya tingkat kepadatan penduduknya relatif tinggi. Daerah di Indonesia yang tingkat kepadatan penduduknya tertinggi adalah Pulau Jawa. Adapun yang terendah adalah daerah Papua (Irian Jaya).
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi tingkat kepadatan penduduk suatu daerah sebagai berikut:
a. tingkat kesuburan tanah;
b. bentuk lahan;
c. iklim yang baik;
d. pusat pemerintahan;
e. pusat kegiatan ekonomi dan industri;
f. ketersediaan prasarana jalan;
g. ketersediaan pusat pendidikan.


1. Dampak Kepadatan Penduduk
    Kepadatan penduduk pada daerah tertentu (terutama di kawasan perkotaan dan pusat-pusat kegiatan) akan menimbulkan berbagai dampak permasalahan kependudukan, antara lain:
a. munculnya kawasan-kawasan kumuh kota dengan rumah-rumah yang tidak layak huni
b. sulitnya persaingan di dunia kerja, sehingga menyebabkan merebaknya sektor-sektor informal, seperti pedagang kaki lima, pengamen, dan sebagainya yang terkadang keberadaannya dapat mengganggu ketertiban;
c. turunnya kualitas lingkungan;
d. terganggunya stabilitas keamanan.
2 . Cara Menanggulangi Kepadatan Penduduk
     Adapun cara-cara yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi dampak kepadatan penduduk / ketidakmerataan penduduk meliputi hal-hal berikut ini.
a. Melaksanakan program transmigrasi penduduk dari daerah padat ke daerah yang masih kurang penduduknya.
b. Melaksanakan program pemerataan pembangunan dengan cara mendistribusikan perusahaan atau industri di pinggir kota (dekat kawasan pedesaan) di pulau-pulau selain Pulau Jawa.
c. Melengkapi sarana dan prasarana sosial masyarakat hingga ke pelosok desa, sehingga pelayanan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat desa dapat dipenuhi sendiri dan dapat mencegah atau mengurangi arus urbanisasi.
d. Penyebaran pendirian pusat-pusat industri dan perdagangan ke berbagai daerah sehingga penduduk tidak memusat hanya di suatu daerah.
e. Pemanfaatan Iptek untuk mengolah daerah-daerah yang tanahnya tidak subur dan gersang menjadi daerah yang subur dan nyaman untuk digunakan sebagai tempat tinggal.
f. Membuat peraturan pemerintah yang mengatur tentang imigrasi dan emigrasi.

Friday, July 29, 2016

Piramida Penduduk (Pengertian, Bentuk | Piramida Penduduk Muda, Dewasa, dan Tua)


Piramida Penduduk adalah gambaran susunan penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat digambarkan secara grafis dengan perbedaan atas dan bawah. Piramida penduduk pada dasarnya merupakan bentuk penyajian data kependudukan (jenis kelamin dan kelompok umur) antara dua grafik batang yang digambarkan secara berlawanan arah dengan posisi horizontal. Dalam piramida ada garis horisontal dan garis vertikal, sumbu vertikal menggambarkan umur pen-duduk dari nol sampai dengan 65 tahun lebih, dengan interval satu tahunan ataupun lima tahunan. Sumbu horizontal menggambarkan jumlah penduduk baik secara absolut maupun relatif dalam skala tertentu. Pada bagian kiri sumbu vertikal digambarkan penduduk laki-laki dan perempuan disebelah kanan. Tidak seluruh piramida penduduk selalu runcing bagian atas. Untuk negara maju, susunan penduduk yang digambarkan dalam bentuk piramida penduduk, bagian atas sama besar dengan bagian bawah, bahkan ada beberapa negara maju dengan grafik piramida penduduk bagian atas lebih besar.
Dengan piramida penduduk akan dapat diketahui gambaran mengenai:
1. Perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan.
2. Penduduk kelompok anak-anak, dewasa dan orang tua.
3. Jumlah angkatan kerja.
4. Jumlah lapangan kerja yang dibutuhkan.
5. Angka ketergantungan.
6. Rasio laki-laki perempuan.
7. Kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.
8. Perkiraan jumlah kelahiran yang akan datang.

     Susunan penduduk atas dasar umur dan jenis kelamin, karakteristik penduduk suatu daerah/negara dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk piramida penduduk, yaitu:
1. Piramida penduduk muda (ekspansif)
    Piramida penduduk muda berbentuk kerucut alasnya lebar dan puncaknya meruncing. Piramida ini menggambarkan penduduk yang sedang mengalami pertumbuhan pesat dimana usia muda berada dalam jumlah yang besar. Hal ini disebabkan adanya angka kelahiran yang tinggi dan kematian yang rendah. Negara yang penduduknya berbentuk piramida ini adalah Indonesia dan China.
Piramida penduduk muda / expensive ini menggambarkan:
a. Sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda.
b. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa penduduk daerah tersebut sedang mengalami pertumbuhan.
c. Tingkat kelahiran dan kematian masih cukup tinggi.
d. Pertumbuhan penduduknya tinggi.
Berikut adalah gambar dari piramida penduduk muda:
Piramida penduduk muda (ekspansif)

2. Piramida penduduk dewasa (Stationer)

    Piramida ini menggambarkan penduduk yang pertumbuhannya stabil. Hal ini terjadi karena kelahiran (natalitas) dengan kematian (mortalitas) stabil (seimbang). Penduduk dunia dengan piramida seperti ini biasanya terdapat di negara-negara maju, seperti: Amerika dan Inggris.

    Bentuk piramida penduduk dewasa / stationer menyerupai persegi empat, bentuk tersebut menggambarkan keadaan penduduk:
a. Jumlah penduduk dalam keadaan stasioner.
b. Jumlah kelahiran dan kematian seimbang.
c. Jumlah penduduk relatif tetap.
d. Pertumbuhan penduduk rendah
e. Penduduk muda hampir sebanding dengan penduduk tua.
Berikut adalah gambar dari piramida penduduk dewasa:
Piramida penduduk dewasa (Stationer)

3. Piramida penduduk tua (Konstruktif)
    Piramida penduduk tua ini menggambarkan penduduk yang cenderung pertumbuhannya mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan karena angka kelahiran (natalitas) dan kematian yang seimbang. Grafik semacam ini terjadi di negara-negara, seperti: Jerman, Belgia, dan Swedia.   
Bentuk piramidanya menyerupai bentuk nisan, bentuk ini menggambarkan bahwa:
a. Jumlah penduduk terus berkurang.
b. Angka kelahiran lebih kecil dari angka kematian.
c. Sebagian besar penduduk berada pada kelompok usia tua.
d. Pertumbuhan penduduk sangat rendah bahkan tidak ada sama sekali.
Berikut adalah gambar dari piramida penduduk tua:
Piramida penduduk tua (Konstruktif)
Itulah tadi bahasan mengenai piramida penduduk yang terdiri dari tiga piramida yaitu, muda, dewasa, dan tua, semoga bermanfaat :)

Tuesday, July 26, 2016

Sirkulasi, Urbanisasi, Ruralisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Remigrasi (Pengertian, Dampak Positif Negatif, dan Faktor Penyebab)

Sirkulasi, urbanisasi, ruralisasi, dan transmigrasi termasuk kedalam migrasi lokal / nasional. Sedangkan imigrasi, emigrasi, dan remigrasi termasuk kedalam migrasi internasional. Migrasi lokal/nasional adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain dalam satu negara.
Untuk lebih jelasnya tentang jenis-jenis Migrasi mari kita simak uraian berikut ini:
a. Sirkulasi
    Sirkulasi adalah bentuk perpindahan penduduk tidak menetap, namun ada juga yang menetap atau tinggal untuk sementara waktu di daerah tujuan. Berdasarkan intensitas waktunya, sirkulasi dapat dibedakan menjadi sirkulasi harian, mingguan, atau bulanan.
1. Sirkulasi harian adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain yang dilakukan pada pagi hari dan kembali pada sore atau malam harinya (ulang-alik tanpa menginap). Pelaku sirkulasi ulang-alik ini disebut dengan penglaju atau komuter.
Sirkulasi, Urbanisasi, Ruralisasi, Transmigrasi, Imigrasi, Emigrasi, Remigrasi (Pengertian, Dampak Positif Negatif, dan Faktor Penyebab)

Pemandangan para komuter yang datang di pagi hari dan pulang di sore hari di kota Beijing, Cina.

2. Sirkulasi mingguan adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain pada awal pekan dan akan kembali pada akhir pekan (ulang-alik dengan menginap).
3. Sirkulasi bulanan adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain yang dilakukan sebulan sekali. Sirkulasi bulanan terjadi jika jarak tempuh antardaerah relatif jauh, sehingga dianggap tidak efektif (baik dari segi waktu atau biaya) untuk melakukan sirkulasi harian atau mingguan.
Dampak Positif Sirkulasi
1. Terjadi penyerapan tenaga kerja dari luar daerah.
2. Memperoleh tenaga kerja dengan upah yang relatif lebih murah.
3. Adanya arus para penglaju dapat meningkatkan sarana dan prasarana transportasi.
4. Terjadi pemerataan pendapatan.
Dampak Negatif Sirkulasi
1. Menimbulkan kenaikan volume lalu lintas dan angkutan pada jam-jam atau hari-hari tertentu, misalnya di pagi dan sore hari atau pada awal pekan dan akhir pekan.
2. Mengurangi peluang kerja bagi masyarakat atau penduduk asli.
3. Beban kota atau daerah yang didatangi semakin berat karena terjadinya kenaikan jumlah penduduk (khususnya di siang hari) sehingga kota atau daerah tersebut terasa lebih padat.

b. Urbanisasi
     Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota dalam satu pulau. Urbanisasi pada umumnya bersifat menetap, sehingga dapat memengaruhi jumlah penduduk kota yang dituju ataupun jumlah penduduk di desa yang ditinggalkan. Terjadinya urbanisasi dipengaruhi oleh faktor pendorong dan faktor penarik,
berikut ini.
Faktor pendorong terjadinya urbanisasi:
1. kurang bervariasinya peluang kerja dan kesempatan berusaha, khususnya di luar sektor pertanian;
2. semakin sempitnya lahan pertanian;
3. rendahnya upah tenaga kerja;
4. keterbatasan sarana dan prasarana sosial;
5. adanya perasaan lebih terpandang bila dapat bekerja di kota; serta
6. merasa tidak cocok lagi dengan pola kehidupan di desa.
Faktor pendorong terjadinya urbanisasi

Suasana kota yang serba megah dan modern menarik minat penduduk desa melakukan urbanisasi.

Faktor penarik urbanisasi:
1. lebih bervariasinya peluang kerja dan kesempatan berusaha di kota;
2. upah tenaga kerja di kota relatif lebih besar; serta
3. ketersediaan sarana dan prasarana sosial yang kompleks.
Dampak Positif Urbanisasi
1. Mengurangi angka pengangguran di daerah pedesaan.
2. Masyarakat desa yang bekerja di kota dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
3. Para pelaku urbanisasi dapat menularkan pengalaman kerjanya di desa, misalnya dengan membuka usaha sendiri di desanya.
Dampak Negatif Urbanisasi
1. Desa kehilangan tenaga kerja, khususnya generasi muda sebagai tenaga penggerak pembangunan.
2. Peluang kerja di kota menjadi semakin sempit karena sebagian telah diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah.
3. Merebaknya kawasan-kawasan kumuh di kota.
4. Meningkatkan kesenjangan sosial masyarakat kota.
5. Merebaknya sektor-sektor informal, seperti PKL, yang dapat mengurangi keindahan kota.
6. Peningkatan jumlah penduduk di kota menuntut penyediaan sarana dan prasarana sosial.
7. Meningkatkan angka kriminalitas di kota karena dampak pengangguran.

c. Ruralisasi
     Ruralisasi adalah kebalikan dari urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa. Ruralisasi pada umumnya banyak dilakukan oleh mereka yang dulu pernah melakukan urbanisasi, namun banyak juga pelaku ruralisasi yang merupakan orang kota asli. Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya ruralisasi dibedakan menjadi faktor pendorong dan faktor penarik berikut ini.
Faktor pendorong rarulisasi:
1. kejenuhan tinggal di kota;
2. harga lahan di kota semakin mahal sehingga tidak terjangkau;
3. keinginan untuk memajukan desa atau daerah asalnya; serta
4. merasa tidak mampu lagi mengikuti dinamika kehidupan di kota.
Faktor penarik rarulisasi:
1. harga lahan di pedesaan relatif masih murah;
2. pola kehidupan masyarakatnya lebih sederhana;
3. suasana lebih tenang, sehingga cocok untuk penduduk usia tua dalam menjalani masa pensiun; serta
4. adanya perasaan keterkaitan dengan daerah asal atau kenangan masa kecil.

d. Transmigrasi
     Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari daerah atau pulau yang padat penduduknya ke daerah (pulau) yang berpenduduk jarang. Pelaku transmigrasi disebut dengan transmigran.
Dampak Positif dan negatif Transmigrasi

Transmigrasi bedol desa melibatkan segenap warga desa secara bersama-sama.

Berdasarkan pelaksanaannya, transmigrasi dapat dibedakan, menjadi berikut ini.
1. Transmigrasi umum, adalah transmigrasi yang dilakukan melalui program pemerintah. Biaya transmigrasi ditanggung pemerintah, termasuk penyediaan lahan pertanian dan biaya hidup untuk beberapa bulan.
2. Transmigrasi spontan, adalah transmigrasi yang dilakukan atas kesadaran dan biaya sendiri (swakarsa).
3. Transmigrasi sektoral, adalah transmigrasi yang biayanya ditanggung bersama antara pemerintah daerah asal dan pemerintah daerah tujuan transmigrasi.
4. Transmigrasi bedol desa, adalah transmigrasi yang dilakukan terhadap satu desa atau daerah secara bersama-sama.
Transmigrasi ini dilakukan karena beberapa faktor, antara lain:
1. daerah asal terkena pembangunan proyek pemerintah, misalnya pembangunan waduk yang luas; atau
1. daerah asal merupakan kawasan bencana, sehingga masyarakat yang ada di dalamnya harus dipindahkan.
Dampak Positif Transmigrasi
1. Memeratakan kepadatan penduduk.
2. Meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
3. Merangsang pembangunan di daerah baru.
4. Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa melalui pembauran antarsuku bangsa.
Dampak Negatif Transmigrasi
1. Berkurangnya areal hutan untuk lahan permukiman.
2. Terganggunya habitat hewan liar di daerah tujuan transmigrasi.
3. Pada beberapa kasus, pelaksanaan transmigrasi terkadang menimbulkan kecemburuan sosial antara penduduk asli dengan para pendatang.

    Berikutnya adalah kita membahas tentang imigrasi, emigrasi, remigrasi yang termasuk kedalam migrasi internasional. Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk antarnegara. Migrasi internasional terjadi karena beberapa hal, antara lain, karena terjadi peperangan, bencana alam, atau untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
a. Imigrasi adalah masuknya penduduk dari luar negeri ke dalam negeri untuk tujuan menetap. Pelaku imigrasi disebut dengan imigran.
b. Emigrasi adalah perpindahan penduduk dari dalam negeri ke luar negeri untuk tujuan menetap. Pelaku emigrasi disebut dengan emigran.
c. Remigrasi adalah pemulangan kembali penduduk asing ke negara asalnya.

Monday, July 25, 2016

Migrasi / Mobilitas (Pengertian, Faktor Migrasi, Dampak Migrasi, dan Upaya Mengatasi Dampak Negatif Migrasi Penduduk)

Migrasi atau mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain. Migrasi juga dapat diartiakan perpindahan penduduk antar daerah dengan melintasi batas administrasi tertentu, baik untuk tinggal sementara ataupun menetap. Migrasi yang dilakukan untuk menetap dapat memengaruhi perubahan jumlah penduduk suatu daerah.
Migrasi / Mobilitas (Pengertian, Faktor Migrasi, Dampak Migrasi, dan Upaya Mengatasi Dampak Negatif Migrasi Penduduk)
Adapun pola mobilitas penduduk meliputi: 
A. Mobilitas penduduk permanen (migrasi), yang meliputi:
1) Migrasi internasional (migrasi antarnegara) yang terdiri dari imigrasi, emigrasi, dan remigrasi.
    a. Imigrasi adalah masuknya penduduk dari negara lain ke dalam suatu negara. Orang-orang yang melakukan imigrasi disebut imigran. Contohnya, orang-orang Thailand, Hong Kong, dan Malaysia yang datang ke Indonesia untuk bekerja.
    b. Emigrasi adalah perpindahan penduduk dari dalam satu negara ke negara lain.
        Contohnya, penduduk Indonesia yang pergi ke Timur Tengah untuk bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).
    c. Remigrasi atau repatriasi yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara kembali ke negaranya sendiri. Remigrasi sering juga disebut kembali ke tanah air.
       Contohnya, penduduk Indonesia yang bekerja di Timur Tengah, ataupun mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Mesir kembali ke tanah air.
2) Migrasi nasional (migrasi lokal), terdiri dari:
    a. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.
    b. Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari pulau yang padat penduduknya ke pulau
         yang masih jarang penduduknya.
Transmigrasi pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun 1905 oleh pemerintah Belanda dari daerah Kedu ke daerah Lampung sebanyak 155 keluarga.
    c. Ruralisasi adalah perpindahan penduduk dari kota ke desa untuk menetap di desa.
    d. Evakuasi adalah perpindahan penduduk untuk menghindari bahaya.
B. Mobilitas penduduk nonpermanen (sirkuler), yang meliputi:
    1) Mobilitas ulang alik atau mobiltas harian, yakni penduduk yang karena pekerjaannya harus melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya ke tempat bekerjanya di lain daerah.
    2) Mobilitas bermusim, yakni penduduk yang karena pekerjaan atau keperluannya untuk sementara waktu menetap di suatu daerah dan dalam jangka waktu tertentu kembali ke tempat tinggalnya.

Migrasi penduduk juga dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sebagai berikut:
1. Migrasi internal, yaitu perpindahan penduduk dalam satu negara, misalnya urbanisasi dan transmigrasi.
2. Migrasi internasional, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain.

Faktor Migrasi
       Adapun tentang alasan seseorang melakukan migrasi tentunya beragam dan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Secara umum, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi sebagai berikut.
1. Faktor ekonomi yaitu ingin memperoleh kesejahteraan yang lebih baik di tempat yang baru.
2. Faktor pendidikan yaitu migrasi yang terjadi karena ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lokasi perguruan tinggi biasanya terpusat di suatu wilayah tertentu, khususnya perkotaan.
3. Faktor pekerjaan yaitu migrasi yang terjadi karena penugasan yang diberikan oleh pemimpin tempatnya bekerja.
4. Faktor keselamatan yaitu daerah yang sering dilanda bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan bencana-bencana alam lainnya. Hal itu menyebabkan banyak penduduk di tempat tersebut yang bermigrasi ke tempat lain yang bebas dari gangguan bencana alam.
5. Faktor keamanan yaitu migrasi yang terjadi akibat adanya gangguan keamanan di tempat mereka sebelumnya.
6. Faktor politik yaitu migrasi yang terjadi karena adanya perbedaan politik di antara warga masyarakat.
7. Faktor agama yaitu migrasi yang terjadi karena perbedaan agama sehingga sebagian penduduk merasa kurang bebas menjalankan ajaran agamanya.
8. Faktor sosial, yaitu migrasi yang terjadi karena adanya tekanan-tekanan sosial dari masyarakat terhadap seseorang sehingga ia berimigrasi.
9. Faktor kepentingan pembangunan yaitu migrasi yang terjadi karena suatu daerah permukiman penduduk terkena proyek pembangunan seperti pembuatan jalan tol Cipularang.
(Baca juga: Jenis-Jenis Migrasi Beserta Dampak dan Faktor Penyebabnya)

Dampak Migrasi
      Masing-masing migrasi ini memiliki dampak yang berbeda sehingga pembahasan tentang dampak migrasi akan diuraikan berdasarkan dua jenis migrasi tersebut.
A. Dampak positif migrasi internasional
1. Dampak positif imigrasi
    - Migrasi mendorong terjadinya proses alih teknologi dari tenaga asing kepada tenaga kerja Indonesia.
    - Kedatangan orang-orang asing ke Indonesia mempercepat proses pembangunan, dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.
    - Imigrasi dari negara-negara asing, terutama dari negara maju yang bertujuan untuk bekerja di Indonesia. Biasanya, tenaga ahli yang mempunyai keterampilan (skill) yang baik. Hal ini dapat membantu kekurangan tenaga ahli di Indonesia.
    - Dapat menambah rasa persahabatan dan kebersamaan antarbangsa. Adanya orang-orang asing yang tinggal di Indonesia akan memudahkan kita untuk bergaul dan mengenal mereka secara langsung sehingga timbul suatu rasa kebersamaan dengan mereka.
2. Dampak positif emigrasi
     - Meningkatkan persediaan devisa negara berupa mata uang asing yang diperoleh dari orang Indonesia yang kerja di luar negeri (TKI).
     - Mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Dengan banyaknya orang Indonesia yang belajar di luar negeri menjadikan investasi sumber daya manusia yang bermutu di kemudian hari.
     -Dapat menjadi duta bangsa untuk memperkenalkan Indonesia di negara lain.  
B. Dampak positif migrasi nasional
    Terdapat beberapa dampak positif dari migrasi nasional, di antaranya sebagai berikut.
1. Dampak positif transmigrasi .
     - Lahan-lahan yang kosong dapat dimanfaatkan.
     - Penduduk yang ditransmigrasikan kehidupannya dapat lebih baik secara ekonomi.
     - Meningkatnya produksi, terutama di bidang pertanian.
     - Dapat mempercepat pemerataan penduduk.
     - Mengurangi jumlah pengangguran, terutama bagi mereka yang ditransmigrasikan.
2. Dampak positif urbanisasi adalah sebagai berikut.
     - Dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kota.
     - Banyak di antara penduduk desa yang telah berurbanisasi ke kota tergolong orang yang berhasil.
     - Membawa dampak positif bagi pembangunan desa.
     - Meningkatkan taraf hidup keluarga yang ditinggalkan di desa.
     - Dinamika kehidupan kota bertambah ramai seperti kegiatan perdagangan.
     - Kesempatan membuka usaha-usaha baru semakin luas.
3. Dampak positif ruralisasi adalah sebagai berikut.
    - Menjadi pendorong pembaruan di desa, terlebih jika yang pindah adalah penduduk yang berpendidikan.
    - Membantu kekurangan tenaga terampil di desa.
    - Mendorong kemajuan perekonomian di desa.
    - Dampak negatif migrasi internasional

     Selain memberikan banyak dampak positif bagi kehidupan masyarakat, migrasi juga dapat menimbulkan dampak negatif yang kurang baik.
A. Dampak negatif migrasi internasional
1. Dampak negatif imigrasi
    - Orang-orang yang melakukan imigrasi adakalanya di antara mereka terdapat orang-orang yang bertujuan tidak baik, seperti pengedar narkoba, bertujuan politik, memata-matai, dan sebagainya.
    - Imigran asing yang datang untuk bekerja kadang-kadang dapat menimbulkan kecemburuan sosial antara tenaga kerja asing dan tenaga kerja dalam negeri.
    - Berkembangnya budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Apabila filter dari masyarakat rendah, dapat merusak budaya kita.
2. Dampak negatif emigrasi
    - Tenaga-tenaga terampil dalam negeri lebih memilih tinggal di luar negeri, apabila kehidupan di luar negeri lebih baik.
    - Jika emigran-emigran dari Indonesia ke luar negeri merupakan tenaga-tenaga ahli/terampil, akan mengurangi tenaga ahli yang ada di dalam negeri.
    - Oknum emigran-emigran dari Indonesia yang melakukan tindakan-tindakan yang dilarang di negara lain, dapat memperburuk citra Indonesia di luar negeri.
 B. Dampak negatif migrasi nasional
    Migrasi nasional yang banyak terjadi di Indonesia terutama transmigrasi dan urbanisasi.
1. Dampak negatif transmigrasi
    a) Transmigrasi memerlukan dana yang cukup besar sehingga banyak menghabiskan keuangan negara.
    b) Terkadang mendorong kecemburuan sosial antara masyarakat setempat dan para transmigran.
    c) Adanya transmigran yang kurang sungguh-sungguh dapat menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan transmigrasi sehingga dana yang dikeluarkan menjadi sia-sia.
    d) Beberapa orang dari transmigran tidak betah di tempat tinggal yang baru dan kembali lagi ke tempat asalnya. Hal ini menyebabkan citra transmigrasi menjadi kurang baik.
Dalam mengatasi dampak negatif dari transmigrasi, dapat dilakukan beberapa upaya, di antaranya sebagai berikut.
1. Dalam rangka mengurangi biaya yang dikeluarkan pemerintah, jenis proyek transmigrasi dapat lebih diutamakan transmigrasi spontan atau swakarsa.
2. Dilakukan proses seleksi yang lebih baik kepada calon-calon transmigran sehingga orang-orang yang ditransmigrasikan benar-benar telah siap mental maupun fisik.
3. Menyiapkan lahan yang baik dan siap untuk ditempati.
4. Dilakukan kerja sama dengan masyarakat setempat di daerah dekat transmigrasi, seperti diadakan pelatihan bersama dan bantuan berupa fasilitas yang hampir sama dengan yang diberikan kepada para transmigran.
2. Dampak negatif urbanisasi
    Urbanisasi yang terus-menerus berlangsung dapat menyebabkan jumlah penduduk kota meningkat dengan cepat sehingga terjadilah ledakan penduduk di perkotaan dan sebaliknya persentase penduduk desa terus mengalami penurunan. Pertumbuhan jumlah penduduk kota yang sebagian berasal dari urbanisasi, telah menimbulkan berbagai masalah yang merupakan dampak negatif dari urbanisasi antara lain sebagai berikut.
 Terhadap desa:
    - Produktivitas desa menjadi rendah karena penduduk yang tinggal di desa kebanyakan orang-orang tua. Para pemudanya biasanya lebih senang tinggal di kota.
    - Tenaga terampil di desa berkurang dengan berpindahnya tenaga berpendidikan dan terampil ke kota.
    - Umumnya orang-orang desa yang berurbanisasi ke kota yang melanjutkan pendidikan enggan kembali sehingga desa kekurangan tenaga terdidik.
Terhadap kota:
    - Mendorong terjadinya kemacetan lalu lintas.
    - Mendorong meningkatnya harga lahan di kota sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat kecil.
    - Banyaknya yang tinggal di kota menyebabkan persediaan tenaga kerja lebih besar daripada kesempatan kerja sehingga terjadilah pengangguran.
    - Banyaknya pengangguran dapat mendorong meningkatnya kriminalitas.
    - Padatnya penduduk di kota menyebabkan timbulnya permukimanpermukiman kumuh.
     Beberapa dampak negatif di atas tentunya perlu diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga tidak menimbulkan akibat yang lebih parah, baik bagi kehidupan di perkotaan maupun di pedesan.
Di antara upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak negatif migrasi di antaranya adalah:
a) Pemerataan pembangunan ke daerah-daerah sehingga penduduk tidak selalu terdorong untuk pindah ke kota.
b) Pengembangan perekonomian desa sehingga kesempatan kerja dan sumbersumber keuangan tersedia pula di desa.
c) Pembangunan sarana dan prasarana umum seperti jalan raya, listrik, telepon dan sebagainya di pedesaan sehingga hubungan antara desa dan kota menjadi lancar.
d) Pembangunan sarana pendidikan yang memadai sehingga orang desa tidak harus selalu pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.
Upaya Mengatasi Dampak Negatif Migrasi
      Untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif dari berbagai jenis migrasi tersebut, pemerintah mengambil langkah-langkah, berikut ini.
1. Merealisasikan pemerataan pembangunan antardaerah, sehingga kesenjangan pembangunan dapat dikurangi.
2. Melaksanakan program-program pembangunan desa, seperti pelaksanaan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dan program Bangga Suka Desa, sehingga dapat lebih mengoptimalkan pembangunan desa.
3. Meningkatkan hasil-hasil pertanian melalui intensifikasi pertanian ataupun ekstensifikasi pertanian.
4. Merangsang kegiatan industri di pinggiran kota atau dekat dengan kawasan pedesaan, sehingga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja.
5. Melakukan kebijakan “kota tertutup”, yaitu larangan bagi penduduk (khususnya penduduk pendatang) yang tidak memiliki KTP atau pekerjaan tetap untuk tinggal di kota yang dituju.
6. Melaksanakan pembangunan terpadu antardaerah dalam satu kawasan, misalnya antara Jakarta dengan Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor sehingga pusat pertumbuhan tidak hanya memusat di Jakarta.
Itulah tadi bahasan mengenai pengertian migrasi, faktor serta dampak dari migrasi, semoga bermanfaat :)

Saturday, July 23, 2016

Pengertian dan Jenis-Jenis Status Sosial (Status Diberikan & Diperjuangkan)

Status sosial adalah kedudukan sosial seseorang atau individu dalam kelompok masyarakat. Dengan demikian, seseorang dapat memiliki beberapa status karena ikut serta dalam berbagai kelompok dalam kehidupan bermasyarakat. Status yang dimiliki oleh seseorang akan menentukan derajat,
kewajiban, dan tanggung jawab dalam kelompoknya. Misalnya, apabila kamu menjadi ketua kelas, maka statusmu setingkat lebih tinggi dibandingkan dengan temanmu. Tetapi kamu juga memiliki tanggung jawab yang lebih karena secara langsung membawahi berpuluh-puluh teman sekelas dan harus dapat menjadi suri tauladan.
       Sosialisasi sebagai proses belajar yang dialami oleh setiap individu sebagai anggota masyarakat sejak kecil hingga akhir hayatnya akan mengarahkan setiap individu tersebut untuk dapat mengenal status dan perannya di masyarakat. Hal tersebut karena dalam sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Melalui proses sosialisasi ini juga, setiap individu akan dapat mengetahui dan menjalankan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya sesuai dengan status dan perannya itu. Misalnya status kamu di sekolah, yaitu sebagai pelajar yang mempunyai peranan untuk memerhatikan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan oleh guru, menaati tata tertib sekolah, dan lain-lain. (baca juga: Media sosialisasi)
      Apabila kita perhatikan lebih lanjut, status sosial sangat bervariasi. Status sosial dalam masyarakat dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
1. Ascribed Status (Status yang Diberikan Secara Otomatis)
    Ascribed status merupakan jenis status sosial yang diperoleh secara otomatis tanpa harus diperjuangkan terlebih dahulu. Status ini bersifat tertutup, artinya hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang sama dengan status kedua orang tuanya. Status yang diperoleh melalui proses ini adalah sebagai berikut.
a) Keturunan
      Pada komunitas tertentu, status seseorang dilihat dari asal keturunannya, misalnya keturunan bangsawan, keturunan raja, dan sistem kasta (brahmana, ksatria, waisya, dan sudra). Seorang anak raja akan secara langsung menjadi putra mahkota yang nantinya akan menggantikan raja yang sudah mangkat.
b) Jenis kelamin
    Jenis kelamin pria dianggap memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan wanita dalam kehidupan keluarga. Pria biasanya secara langsung menjadi kepala keluarga yang bertugas melindungi dan memberi nafkah bagi keluarganya.
Biasanya ascribed status dapat ditemui pada jenis masyarakat yang menganut sistem tertutup, tetapi tidak jarang pula dapat ditemui pada masyarakat yang menganut sistem terbuka.
Contohnya ulama, pastur, bikshu, pendeta.

2. Achieved Status (Status yang Diperjuangkan)
    Achieved status merupakan jenis status sosial yang sengaja diusahakan oleh seseorang. Kedudukan ini bersifat terbuka dan tidak didasarkan atas dasar kelahiran, dan sangat tergantung dari kemampuan individu untuk meraih kedudukan tersebut. Pada umumnya cara seseorang untuk meraih status ini adalah dengan jalan pendidikan di sekolah formal dan perjuangan keras. Achieved status dapat diperoleh melalui proses sebagai berikut.
a) Prestasi
    Dalam hal ini status diperoleh karena berhasil dalam menyelesaikan studi atau meraih juara dalam suatu kejuaraan. Apresiasi masyarakat akan berbeda pada orang-orang yang memiliki prestasi lebih. Contohnya dokter, insinyur, dan hakim.
b) Kekuasaan atau jabatan
    Seseorang akan dipandang memiliki status tinggi, apabila orang tersebut memiliki jabatan tertentu yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kedudukan masyarakat lainnya. Untuk memiliki jabatan dibutuhkan perjuangan.
Contohnya manajer perusahaan, kepala desa, dan guru.
c) Kualitas pribadi
    Seseorang memiliki status tinggi apabila ia dituakan oleh masyarakat. Biasanya tokoh yang dituakan yaitu pemuka agama atau pemuka adat. Kualitas pribadi dapat diperjuangkan dengan pendidikan dan pengalaman.


3. Assigned Status (Status yang Sengaja Diberikan)
    Assigned status merupakan jenis status sosial yang sengaja diberikan kepada seseorang atau kelompok yang telah berjasa memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Misalnya veteran pejuang (pahlawan), doktor, dan profesor.